Kiat Mendisiplinkan Rutinitas Anak Sebelum Berangkat Sekolah

Kiat Mendisiplinkan Rutinitas Anak Sebelum Berangkat Sekolah- Rutinitas pagi hari selalu penuh drama. Pasti tidak asing dengan kalimat tersebut. Apalagi sebagai seorang ibu yang mempunyai anak usia sekolah dan balita sepertiku. Pagi hari adalah waktu yang sangat padat. Si sulung dan suami harus berangkat pukul 5.45 WIB setiap hari. Karena lokasi sekolah dan lokasi tempat kerja mereka berdua lumayan jauh dari rumah. Butuh waktu sekitar 30 menit jika lalu lintas lancar. 



Oleh sebab itu, aku harus bangun lebih pagi dan mempersiapkan beberapa keperluan mereka berdua. Setelah sholat subuh, aku harus sudah berada di dapur menyiapkan sarapan, belanja ke pasar, dan menyiapkan bekal untuk si sulung. 


Jika dalam kondisi normal, aku bisa melakukan beberapa perkejaan dapur sekaligus seperti mencuci piring kotor, menanak nasi, dan menyiapkan sarapan. Tapi kadang ada kondisi tak terduga seperti si adik mendadak bangun subuh dan hanya mau ditemani oleh bundanya melakukan aktifitas seperti mandi atau bermain di kamar. 

Konsentrasiku otomatis terpecah. Apalagi bila terdengar tangisan si adik meminta makanan yang sedang dimakan oleh kakaknya. Meskipun aku sudah menyiapkan dua piring yang sama isinya antara adik dan kakak, tapi tetap saja si adik menginginkan apa yang dipegang oleh kakaknya. 


Rutinitas Pagi Si Sulung Kacau

Mengontrol rutinitas pagi hari si kakak sembari mengawasi  adik ternyata bukan pekerjaan mudah. Meskipun sudah meminta bantuan suami, tetap saja ada hal yang terlewatkan. Pernah beberapa hari berturut-turut ada barang-barang si sulung yang tertinggal. Padahal jarak rumah ke sekolah cukup jauh. 


Perlengkapan sekolah seperti kopiah, kotak pensil, hingga bahan peraga pernah tertinggal. Si sulung lupa belum memasukkan ke dalam tas. Padahal aku sudah mengingatkan (baca : ngomel ) berkali-kali. Kotak bekal yang sudah disiapkan bunda di dekat tas juga pernah tertinggal. Botol air minum yang sudah disi air juga lupa dimasukkan ke tas. 


Bahkan, aku sering harus menahan si sulung sejenak padahal sudah berada di atas motor. Aku melihat kaca mata yang dipakai si sulung sangat kotor. Rupanya dia lupa membersihkan lensanya. Lain waktu aku harus lari-lari ke dalam rumah mengambil baju ganti yang lupa dimasukkan ke tas.

Metode Self Check List 

Suatu hari bunda berkonsultasi masalah rutinitas pagi  si sulung yang kacau kepada  seorang teman yang paham dunia anak. Kebetulan latar belakang pendidikannya adalah psikologi. Setelah mendengarkan keluh kesahku Beliau menyarankan kepadaku untuk menjalankan metode self check list untuk si sulung. 


Tak butuh berpikir lama, keesok harinya aku menerapkan metode self check list kepada si sulung. Setelah si sulung mandi pagi, aku menyodorkan daftar hal-hal yang harus dilakukan oleh si sulung sebelum berangkat sekolah. Jika selesai melakukan kegiatan tersebut, aku meminta si sulung mencentang kegiatan tersebut. 



Untuk menghemat waktu, setelah menyodorkan hal-hal yang harus dilakukan si sulung, aku pergi ke pasar untuk berbelanja beberapa keperluan untuk hari itu. Biasanya meilputi sayur mentah, sayur matang, jajan untuk si adik, dan bahan untuk sarapan si sulung besok paginya. 

Aku terkejut ketika pulang dari pasar, si sulung sudah rapi dengan baju seragamnya. Semua daftar yang harus dikerjakan oleh dia sudah tercentang semua. Tidak ada barang yang tertinggal. Aku juga tidak perlu lari bolak balik masuk rumah mengambilkan barang yang belum masuk tas. Suami juga senang karena tidak terlambat masuk kantor. 

Biasanya suami akan buru-buru saat berangkat karena jarum jam sudah menunjukkan pukul 6.00 WIB. Suami sengaja berangkat lebih awal karena menghindari beberapa titik kemacetan di perjalanan. Self check list juga melatih si sulung lebih bertanggung jawab kepada diri sendiri. Tidak tergantung pada omelan bundanya. 

Mungkin sudah banyak orang tua yang menerapkan metode tersebut. Tapi aku tidak menyesal baru menerapkan kepada si sulung. Karena sebelumnya sudah menerapkan bermacam-macam metode namun belum berhasil. Tiap anak berbeda. Kadang sebuah teori parenting bisa bekerja efektif pada anak lain, belum tentu efektif juga pada anak kita.


No comments