5 Hal yang Wajib Kamu Ketahui Tentang Wali Murid Zaman Sekarang

5 Hal yang Wajib Kamu Ketahui Tentang Wali Murid Zaman Sekarang- Salah satu bentuk ikhtiyar orang tua dalam mendidik anaknya adalah menyekolahkan di sekolah yang sesuai dengan kebutuhan anak. Karena tidak dipungkiri kapasitas sebagai orang tua terbatas. Ada beberapa ilmu yang harus dipelajari dari ahlinya. Setidaknya itu salah satu tujuan orang tua menyekolahkan anak.


Ketika anak bersekolah dan menyandang status murid, maka otomatis orang tua menjadi wali murid yang siap bersinergi dengan guru. Menjadi wali murid zaman sekarang tentu saja berbeda dengan wali murid zaman dulu. Ada faktor yang mempengaruhinya. 

Selama menjadi wali murid kurang lebih 4 tahun, ada beberapa hal yang aku amati. Hal-hal yang membedakan wali murid zaman sekarang dengan zaman ibuku dulu. Mungkin tidak semua wali murid zaman sekarang melakukan hal-hal dibawah ini. Tapi sebagian besar masuk dalam 5 katagori ini. 


Terlibat dalam Tugas Anak  

Wali murid zaman dulu cenderung mempercayakan semua tugas sekolah kepada anaknya. Mereka hanya memfasilitasi agar anak bisa mengerjakan tugasnya dengan lancar. Berbeda dengan wali murid zaman sekarang yang lebih banyak mengambil peran ketika anak mendapat tugas dari sekolah. 


Bahkan, ada wali murid yang nekat mengerjakan prakarya anaknya dari rumah. Padahal tugas tersebut harusnya dikerjakan oleh sang anak di kelas bersama teman-temannya. Entah apa alasan yang mendasari tindakan tersebut, Tapi yang pasti tidak sedikit wali murid yang melakukan hal itu. 

Ada dua kemungkinan wali murid melakukan hal tersebut, yaitu  tidak percaya sepenuhnya bahwa anak bisa melakukannya sendiri atau terlalu menyayangi anak. Mereka tidak menyadari jika tindakannya justru membawa dampak yang kurang bagus untuk anak. Anak menjadi kurang percaya diri dan kurang mandiri. 


Interaksi Sesama Wali Murid Lebih Banyak  

Perkembangan teknologi juga berpengaruh terhadap interaksi antar wali murid. Dulu, wali murid satu dengan wali murid lainnya baru bisa bertemu ketika ada pertemuan wali murid resmi dari sekolah seperti penerimaan rapor tiap semester. Tidak ada interaksi di luar itu. 


Wali murid zaman sekarang dimudahkan berinteraksi dengan sesama wali murid melalui grup chatting yang dibentuk oleh wali kelas. Wali kelas membentuk forum online tersebut untuk memudahkan komunikasi dengan para wali murid. Namun, kenyataannya para wali murid juga membentuk forum lain tanpa wali kelas di dalamnya. 

Di forum tersebut, masing-masing wali murid bisa saling mengenal lebih dekat secara personal. Karena komunikasi yang terjalin lebih luwes dari pada forum yang ada wali kelas di dalamnya. Nada-nada bercanda biasa dilontarkan di grup chatting tersebut. Tentu saja tetap ada sisi negatifnya, di forum itu juga berpotensi terjadi “gesekan” antar wali murid. 

Tak cukup bertemu di dunia maya, para wali murid mengadakan pertemuan rutin dengan alasan untuk mempererat hubungan antar wali murid satu kelas. Pertemuan rutin tersebut bentuknya bermacam-macam, mulai dari agenda “sarapan bareng” sampai arisan bulanan ala sosialita yang tempatnya berpindah-pindah ditentukan oleh wali murid yang mendapat arisan. 

Seakan tak puas dengan pertemuan rutin, para wali murid biasanya mengadakan trip bersama saat weekend. Tujuannya bisa dalam atau luar kota. Agenda yang biasanya hanya sarapan bersama, bisa berubah menjadi belanja bersama atau liburan bersama. Hal-hal seperti itu tentu saja jarang dijumpai pada pola interaksi antar wali murid zaman dulu. 


Selalu Penasaran dengan Proses Pembelajaran di Sekolah


Salah satu ciri wali murid zaman sekarang adalah yang selalu update foto kegiatan anak saat di sekolah.  Dari mana mereka mendapatkan foto-foto tersebut? Foto-foto kegiatan pembelajaran anaknya di dapat dari wali kelas atau usaha  nekat masuk ke area sekolah yang sebenarnya tidak boleh dimasuki oleh wali murid.

Tugas wali kelas zaman sekarang bertambah yaitu mengabadikan proses pembelajaran. Apalagi jika proses pembelajaran berada di luar kelas atau sedang ada kegiatan spesial di sekolah, maka wali kelas akan “ditodong” foto-foto kegiatan anak-anak oleh wali murid. 

Padahal, mengkondisikan sejumlah murid di kelas saja sudah menyita energi. Meminta wali kelas menjadi fotografer dadakan kadang terkesan berlebihan. Mungkin ketika anak-anak tenang, memotret kegiatan mereka tentu begitu mudah. Tapi, ketika semua anak bertingkah aktif, prioritas wali kelas adalah menghandel anak-anak.

Namun, banyak wali murid zaman sekarang yang melontarkan pernyataan kecewa ketika tidak mendapat foto anak-anak selama proses pembelajaran di sekolah. Ada yang secara terang-terangan menanyakan kepada wali kelasnya, ada juga yang hanya membahasnya di forum wali murid saja. 

Hal ini tentu berbeda dengan wali murid zaman dulu yang cenderung menyerahkan semua proses pembelajaran kepada guru di sekolah. Mereka melepas anak-anaknya menuntut ilmu dengan doa-doa panjang semoga proses pembelajaran di sekolah berjalan lancar. Wali murid zaman dulu hanya berinteraksi dengan wali kelas ketika anak tidak masuk atau saat pertemuan pengambilan rapor. 


Khawatir Berlebihan Terhadap Anak 

Fakta lain dari wali murid zaman sekarang adalah mudah khawatir terhadap kondisi anak. Mereka sangat khawatir dengan nilai anak yang turun meskipun hanya satu angka. Bahkan, penilaian harian (PH) yang dijalani anak di sekolah menjadi bahasan yang sangat serius di grup wali murid. Mereka panik jika guru tidak segera memberikan kisi-kisi menjelang PH. Ini Penilaian Harian, bukan Ujian Akhir Nasional yang menentukan kelulusan. 


Wali murid zaman sekarang juga khawatir ketika anak mengikuti kegiatan ourdoor,  hingga ada sebagian yang nekat membuntuti bis yang membawa anak-anak karya wisata ke luar kota. Meskipun pihak sekolah sudah mengeluarkan peringatan keras akan meminta wali murid membawa pulang anaknya jika nekat melakukan hal itu. Tapi mereka mengabaikan peringatan dari pihak sekolah karena sangat khawatir dengan anaknya. 

Kekhawatiran wali murid zaman sekarang tidak sampai di situ saja.  Hal-hal sederhana seperti bagaimana anaknya ke kamar mandi, bagaimana anaknya makan di kelas, serta bagaimana anaknya memakai baju ganti setelah olahraga menjadi sesuatu yang dicemaskan oleh mereka. 


Terlalu Cuek dengan Perkembangan Anak 

Wali murid zaman sekarang juga ada yang cenderung cuek dengan perkembangan anaknya. Kesibukan sebagai pekerja menjadi salah satu alasan tidak sempat memperhatikan perkembangan anaknya secara detail. Waktu bertemu anak tidak banyak. Mereka hanya bertemu pagi hari. Ketika pulang kerja, anak sudah tidur pulas. Sehingga tidak punya kesempatan menanyakan apa yang dilakukan anak selama di sekolah. 

Ada juga wali murid yang terlalu cuek dengan perkembangan anaknya meskipun paham jika anaknya sedikit berbeda dengan anak lainnya secara emosional.Wali murid jenis ini lebih banyak meminta guru untuk mengkondisikan anaknya. Karena mereka berpikir telah membayar mahal sekolah anaknya, sehingga apa yang terjadi dengan anak di sekolah adalah tanggung jawab guru. 

Mereka tidak peduli jika kondisi emosional anaknya sedang labil di sekolah bisa menyakiti temannya seperti memukul. Wali murid tipe ini menganggap hal yang dilakukan anaknya adalah sesuatu yang wajar sebagai anak-anak. Mereka tidak berusaha mencari tahu penyebab anak berulah di sekolah

Tidak hanya urusan emosional, ada juga wali murid yang terlalu cuek dengan perkembangan belajar anaknya. Ketika tiba-tiba nilai anaknya jatuh tidak seperti biasanya, mereka enggan mencari penyebab turunnya semangat belajar anaknya. Mereka lebih memilih memarahi sang anak karena tidak mendapatkan hasil yang sesuai dengan harapan orang tuanya. 

Itulah wali murid zaman sekarang. Jadi, jangan kaget jika baru pertama kali menjadi wali murid dan berinteraksi dengan mereka. Namun, tidak semua wali murid demikian. Masih banyak yang peduli dengan perkembangan anak-anaknya. Masih banyak yang membebaskan anak untuk berkreasi. Dan masih banyak yang percaya kepada kemampuan anaknya dan mengajari kemandirian pada anak. 

No comments