Wednesday, July 5, 2017

4 Alasan Orang Mengomentari Cara Pengasuhan Anak Kita


Sebagai seorang ibu pasti pernah mengalami orang lain berkomentar dengan cara pengasuhan yang kita lakukan kepada anak kita. Tak jarang komentar - komentar tersebut memposisikan seolah-olah kita adalah ibu yang tidak baik, yang tidak bisa mengurus anak kita sendiri. Bila suasana hati kita sedang tidak baik maka akan memancing emosi kita atau malah membuat kita punya perasaan bersalah terus-menerus. Tentunya hal ini tidak bagus buat sang ibu sendiri. Karena penting menjaga mood seorang ibu agar tetap baik. Sehingga akan berdampak terhadap anggota keluarga lainnya terutama anak-anak.

Menurut  Retno Hening  (ibu dari selebgram cilik Kirana)  dalam bukunya  "Happy Little Soul" ada 4 alasan mengapa orang mengomentari cara pengasuhan orang lain. yaitu,

Pertama, Karena Pola Pengasuhan yang Berbeda dengan Kita
Setiap orangtua mempunyai pola pengasuhan yang belum tentu sama satu dengan lainnya. Apa yang terbaik dan cocok diterapkan kepada anak orang lain belum tentu bisa kita terapkan kepada anak kita, begitu sebaliknya. Namun kadang orang tidak bisa memahami hal itu. Sehingga bila cara pengasuhan kita berbeda dengan orang lain, mereka sering berkomentar tanpa berfikir terlebih dahulu.

Misal, anak kita terlihat tidak segemuk anak tetangga dan tiba-tiba ada yang mengomentari jika kita kurang memberikan asupan makanan bergizi kepada anak kita. Padahal antara kita dan tetangga punya pola pengasuhan yang berbeda. Atau ketika kita memanggil anak kita yang sedang bermain di siang bolong  untuk rehat tidur siang, dan ada yang mengomentari bahwa kita mengekang anak. Padahal tidur siang sudah menjadi kebiasaan dalam keluarga kita.

Retno Hening sendiri sebagai seorang ibu juga pernah punya pengalaman terkait komentar orang lain. Ia yang tidak mengharuskan Kirana makan nasi, makan jenis karbohidrat lainnya tak menjadi masalah buatnya asal Kirana kenyang. Namun justru komentar datang dari orang lain yang terbiasa mengharuskan anaknya makan nasi sebagai parameter kenyang. Sehingga anak dianggap kenyang kalau sudah makan nasi. Jika mendapat komentar karena perbedaan pola asuh, Retno pun lebih memilih untuk berlapang dada. Karena setiap anak itu berbeda-beda, tidak bisa disamakan satu dengan lainnya. Yang penting sebagai ibu sudah berusaha memberikan yang terbaik buat putrinya.  Kita juga bisa mencontoh sikap retno hening dalam menanggapi komentar karena perbedaan cara pengasuhan anak.

Kedua, Karena Belum Mengenal Kita
Instagram Retno Hening
Banyak orang berkomentar tentang kondisi anak kita hanya dari kondisi luarnya saja. Orang banyak mengomentari kita dengan komentar-komentar yang negatif tanpa mengenal kita lebih dalam. Mereka tidak berusaha menggali informasi lebih detail tentang cara pengasuhan kita kepada anak-anak. Di zaman sekarang terutama di media sosial banyak orang dengan mudahnya melabeli kita dengan label-label negatif tanpa mengenal siapa kita. Misalnya, jika kita adalah seorang ibu bekerja yang menitipkan anak kita, ada orang yang mengomentari pilihan kita sebagai seorang istri yang tidak bersyukur dengan nafkah pemberian suami dan ibu yang tidak kasihan dengan anaknya. Mereka dengan mudah berkomentar tanpa berfikir terlebih dahulu.

Seorang Retno Hening yang aktif memposting aktifitasnya bersama Kirana di instagram juga tidak luput dari komentar tidak mengenakkan dari followernya. Follower yang tidak mengenal retno lebih dekat namun dengan mudah menjudge ibu Kirana tersebut tidak merawat anaknya dengan baik ketika melihat pipi kirana merah-merah di salah satu video postingannya. Padahal orang yang berkomentar negatif tersebut tidak tahu bagaimana Retno dan suami sudah berusaha semaksimal mungkin dalam merawat Kirana yang  mengidap dermatitis atopi atau eksim.

Untuk orang-orang yang berkomentar negatif kepada kita karena belum mengenal kita sepenuhnya, Retno Hening punya tips yang jitu untuk mengatasinya. Yaitu dengan mensugesti diri sendiri bahwa apa yang dikatakan orang lain tersebut tidak benar, ia tidak tahu apa-apa. Kita sebagai orang tua sudah berusaha memberikan yang terbaik dan orang yang berkomentar itu tidak tahu apa-apa. Terus dan terus berulang mensugesti diri seperti itu. Maka akan meminimalisir rasa bersalah yang sempat hinggap di hati ketika komentar tersebut terlontar.

Ketiga, Karena Bermaksud Menasehati atau Memberi Masukan 
"Anak panas kok gak segera dibawa ke dokter?"
"Anak batuk kok dibiarin? Gak dikasih obat?"
"Sudah setahun lebih kok belum bisa jalan? Gak pernah diajak turun di tanah ya?"
Komentar yang demikian biasanya datang dari keluarga atau teman baik. Mereka punya maksud baik yaitu ingin memberi masukan atas apa yang terjadi dengan kita. Akan tetapi kadang cara yang digunakan tidak enak didengar. Memang susah kalau yang mengomentari adalah orang-orang terdekat kita. Mau mendebat atau sekedar berargumen pun takut menyinggung mereka. Dan akan berujung merenggangnya hubungan yang sudah terjalin.

Retno Hening juga punya pengalaman dengan poin ketiga ini. Saat pulang ke Indonesia, salah satu anggota keluarganya menasehati tentang pentingnya menggunakan shampo ketika memandikan Kirana. Dia beranggapan Kirana tidak akan bersih dimandikan hanya dengan air saja. Sebenarnya maksud anggota keluarga tersebut bagus, menasehati. Namun tidak dibarengi dengan menanyakan terlebih dahulu kepada Retno alasan ia memandikan Kirana hanya dengan air saja. Alasan si ibu tidak memakaikan shampo ke kirana karena sebelumnya sudah mencoba berbagai macam shampo tapi rambut Kirana sempat kasar dan kulit kepalanya mengelupas. Padahal yang ia gunakan shampo yang baik untuk kulit bayi yang sensitif. Sehingga ia memutuskan tidak memberikan shampo sementara waktu ke Kirana.

Menanggapi komentar dari orang terdekat terssebut, Retno hanya diam dan berusaha untuk berfikir positif. Komentar anggota keluarganya itu dianggap sebagi bentuk perhatian dan kasih sayang kepada Kirana. tidak ada maksud lainnya apalagi maksud menyakiti hatinya.

Baca Juga : Mengenal 4 Wanita Inspiratif dalam Sejarah Islam

Keempat, Karena Tidak Mengalami Masalah yang Sama dengan Kita  
Berkomentar memang mudah, apalagi jika orang tersebut tidak mengalami seperti apa yang kita alami. Orang yang tidak pernah punya anak yang  rewel level akut, pasti akan mudah berkomentar kalau kita membiarkan bayi kita menangis dan tidak bisa menenangkannya saat menangis di tengah malam. Berbeda dengan orang yang pernah mengalami hal yang sama dengan kita. Mereka lebih empati. Mereka paham bahwa dengan menggendong atau mengayun tidak membuat tangisan bayi kita berhenti. Bahkan jurus menyusui pun tak bisa diandalkan jika si bayi sudah menangis histeris. Begitulah, orang lain akan dengan mudah mengomentari cara pengasuhan kita karena mereka tidak mengalami masalah yang sama dengan kita.

Sebagai ibu dari Kirana, Retno juga pernah mendapat komentar tidak bisa mendisiplinkan tidur Kirana. Hanya karena jadwal tidur Kirana berantakan. Siang jadi malam dan malam jadi siang. Padahal orang yang berkomentar tersebut tidak pernah mengalami menjadi ibu dari seorang anak yang mengidap eksim, yang setiap malam harus terjaga mewaspadai Kirana menggaruk-garuk badannya yang terasa gatal. Dalam kondisi seperti itu Kirana akan lebih rewel dan ibu akan menenangkan dengan mengelus-elus badannya yang terasa gatal.

Untuk mengatasi komentar karena orang tersebut tidak mengalami masalah yang sama dengan kita, yang bisa dilakukan menurut Retno  adalah diawali dengan menghela nafas, kemudian berusaha menjelaskan dengan bahasa yang bisa diterima oleh sang komentator. Untuk kasus Kirana, Retno menjelaskan dengan bahasa sederhana namun terdengar ilmiah bahwa penderita eksim memang memiliki gangguan tidur. Dan bercerita kepada orang yang memiliki masalah yang sama akan lebih menenangkan, setidaknya kita tidak sendiri dan mereka lebih paham apa yang kita rasakan.

Kesimpulannya, akan selalu ada komentar dari orang lain tentang cara kita mengasuh anak. Lihatlah sisi baik dari komentar orang tersebut dan terimalah sebagai bentuk perhatian kepada kita. Jangan menyalahkan diri sendiri atau merasa dipersalahkan. Yakinlah bahwa apa yang kita lakukan adalah yang terbaik buat anak kita. Tetap mengusahakan yang terbaik untuk anak meski banyak komentar dari orang lain.

Baca Juga : Tips Menghindari Gosip Ala Bunda Agha

12 comments:

  1. Sempat ngalamin pas lebaran kemarin, khususnya pas ketemu keluarga suami, yang belum pernah ketemu sebelumnya. Sebel sih, kesannya nge judge, kalo sudah begitu biasanya saya menghindar aja daripada dapet wejangan2 lain yang bikin kuping panas.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya kadang diam atau menghindar lebih tepat.

      Delete
  2. Iya bener banget, harusnya dipikir dulu sebelum ngomong yg nyakitin apalagi bumil n busui kan sensi banget tfs ya mbaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyup gak hamil aja cewek uda sensi apalagi tambah hamil ya.dobel hahaha

      Delete
  3. perbedaan cara asuh itu yg menguatkan saya untuk berpisah dg keluarga besar mbak... hheehehe.. kl sudah ngumpul kan bawaannya melo kalau mau pisah, tp mengingat satu dan lain hal, kalau bareng terus pusiiing, cara asuh nenek nya begini cara asuh budenya begitu.. cara saya lain lagi, ya sudah setelah lebaran waktunya kembali ke habitat masing2 dan amaan.. kl tetangga sih alhamdulillah gak jadi pikiran

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya serba repot kalo kalo keluarga besar ikut-ikutan dalam hal anak2 ya

      Delete
  4. Saya ngikutin IGnya mbak retnohening dan juga baca bukunya. Kadang nyes juga ya, anak selucu kirana aja juga banyak yang ngomentarin gaya parenting ibunya, hehehe.... apalagi gaya parenting saya yang apalah apalah hehehe.... semangat ibu ibu semuaaa!!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. gak rugi follow beliau ya mbak. ada aja yang bisa kita ambil manfaatnya dalam hal pengasuhan anak

      Delete
  5. Hihi.. Aku juga sempet dongkol sama orang2 yang sok tau sama kehidupan kita. Waktu masa PMS s
    Pelampiasan nulis diblog dengan judul 'Just Font Judge Our Passion' yah iya. Kayak dia pernah ngerti aja kalo diposisi kita gimana ah sudahlah.. Tiap orang punya gaya masing2 untuk mengembangkan diri dan keluarganya.. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. yupz kadang peduli dan kepo bedanya tipiis ya mbak.

      Delete
  6. Hmmm..Capek banget dengan pendapat orang lain tentang pengasuhan anak Mbak heehe.. Saya ngefans iboeknya kirana. Selama ini saya akan serap yang positif. Yang negatif harus diabaikan dengan keras he he..salam kenal

    ReplyDelete
    Replies
    1. sepakat yang baik bisa menjadi inspirasi dalam pengasuhan anak

      Delete