Tuesday, November 20, 2018

Persahabatan Di Usia Matang

Allow semua, tak terasa ya sebentar lagi akhir tahun. Tahun ini begitu istimewa sampai tak menyadari waktu berlalu begitu cepat. Dari sekian nikmat yang aku peroleh selama ini, ada satu nikmat yang wajib aku syukuri, yaitu dikelilingi oleh para sahabat yang luar biasa. Aku beruntung memiliki sahabat seperti mereka. Yupz, meskipun sudah hidup dalam dunia pernikahan, kehadiran para sahabat tetap dibutuhkan. Namun, menjalin persahabatan saat dewasa atau  setelah menikah tentu sedikit berbeda dengan persahabatan saat masih remaja. Ketika masih muda, keberadaan seorang sahabat hanya untuk diajak  bersenang-senang dan sebagai tempat curhat saja. Persahabatan di usia yang lebih matang tidak hanya sebatas itu saja. Ada hal yang lebih krusial dalam persahabatan usia dewasa. 

Usia dewasa itu cenderung lebih hati-hati dan pemilih. Begitu juga dengan urusan persahabatan. Tak terkecuali bagi mereka yang sudah menikah atau masih sendiri di usia matang. Berteman bisa dengan siapa saja, tapi kalau sudah menyangkut teman dekat atau orang yang disebut sahabat akan ada beberapa kriteria tertentu. Memang setiap orang punya kriteria tersendiri tentang orang yang bisa masuk dalam lingkaran persahabatannya. Tapi aku secara pribadi punya tiga poin yang menjadi landasan kenapa menganggap seseorang sebagai sahabat. Karena orang yang aku sebut sahabat ini nantinya bakal tahu sedikit atau banyak kehidupan pribadiku. Sehingga aku tidak mau sembarangan bergaul. 

Berkembang Bersama Sahabat 

"Persahabatan bagai kepompong, 
mengubah ulat menjadi kupu-kupu."

Sudah menikah dan punya dua anak  bukan berarti Aku tidak bisa berkumpul bersama para sahabat. Alhamdulillah aku mempunyai pasangan yang tidak membatasi ruang gerakku. Asal urusan domestik beres dan anak-anak ada yang handel, Aku diperbolehkan keluar rumah bertemu sahabat. Saat bertemu para sahabat di luar sana, aku tidak hanya bersenang-senang tak berfaedah. Namun, ada diskusi bergizi di sela canda tawa. Setelah mendengarkan curhatan receh khas cewek, tak jarang salah satu dari kita membagi ilmunya ke yang lain dalam salah satu pertemuan. Aku sendiri banyak belajar tentang fotografi, kepenulisan,  berbagai tutorial, sampai belajar hal-hal receh seperti aneka tips memasak justru dari para sahabat tercintaku. Aku juga tak segan berbagi seputar parenting kepada mereka. Kebetulan diantara kita, hanya aku yang sudah punya anak usia lebih besar.  Seperti inilah persahabatan yang aku sukai. Kita bersama-sama tumbuh dan berkembang. Meskipun terkadang ukuran badan kita ikutan berkembang karena setiap ketemu tak jauh dari acara makan dan nyemil. 

Jauhi Toxic People 
Ini penting banget buatku. Sama halnya yang disarankan oleh seorang teman yang paham dunia psikologi. Menjauh dari orang-orang yang mempunyai pengaruh kurang baik (Toxic People) dalam kehidupan kita itu sebuah keharusan. Yupz, Aku hanya mau menjalin persahabatan yang sehat. Seperti apakah persahabatan sehat itu? Persahabatan yang saling memberi dukungan satu sama lain. Kita akan turut bahagia jika sahabat kita bahagia. Kita orang pertama yang senang bila sahabat kita berhasil melampaui batas kemampuannya. Persahabatan sehat itu juga berarti  tidak ada iri dengki di dalamnya. Jika dia mengaku sahabat kita, tapi dengan sengaja menghambat kemajuan kita hingga kita tak bisa berkembang, maka perlu ditinjau kembali ikatan persahabatan yang sudah terjalin. Karena sejatinya tak ada persaingan dalam sebuah persahabatan. 


Jadilah Diri Sendiri
Ada yang bilang harga sebuah persahabatan itu mahal. Mau meet up harus pakai dresscode, nongkrong di tempat yang bonafit dengan harga makanan dan minuman kurang ramah di kantong. Belum lagi kalau ditawari barang-barang yang harganya selangit susah untuk menolak. Setidaknya itulah beberapa permasalahan yang dikeluhkan di social media baru-baru ini. Aku sangat tidak sepakat dengan persahabatan model seperti itu. Bagiku, dalam sebuah persahabatan kita harus menjadi diri sendiri. Jangan memaksa menjadi orang lain demi menyenangkan sahabat. Jika seseorang tulus mau bersahabat dengan kita, maka dia bakal mau menerima apapun kondisi kita. Menjadi diri sendiri juga berarti bisa berkata jujur kepada sahabat tentang apa yang kita rasakan. Jangan sampai ada perasaan tidak nyaman membantu sahabat. Utarakan apa yang menjadi ganjalan hatimu kepada sahabat. Sahabat yang baik tidak akan mudah sakit hati atau terbawa perasaan bila kita mengutarakan pendapat kita atau memberi kritik yang membangun.  

Sebenarnya tidak ada habisnya kalau ngomongin tentang sahabat. Karena mereka adalah orang lain yang sudah seperti saudara buat kita. Persahabatan juga tak lekang oleh waktu. Hanya terkadang sedikit renggang oleh kesibukan masing-masing. Adanya sahabat baru juga bukan berarti kita melupakan sahabat lama. Karena sekali sahabat maka sahabat selamanya. Jadi, sudahkah menyapa sahabatmu hari ini? 


2 comments:

  1. Kalau aku sih sahabatannya simple kalau gak cocok ya tak tinggal. Jahat ya daku

    ReplyDelete
  2. Aku dari dulu orangnya ga bisa diem dan bisa dibilang lemot.. Jadi aku sering ga punya temen mbak.. Mungkin gara2 aku minderan juga sih habis sering dibully gara2 aku lemot tadi..

    Tapi semenjak ketemu temen2 blogger dan salah satunya dirimu. Aku merasa hidupku berubah berunah bangettt.. Lebih bahagia sungguh.. Aku kira dulu masa yang paling indah itu SMA ternyata bukan.. Apapun itu masanya yaaa kita yang ngerasain yaa

    ReplyDelete