Thursday, May 24, 2018

Merindukan Suasana Ramadhan Di Kampung Halaman

Alhamdulillah masih dipertemukan dengan Ramadhan tahun ini. Seperti tahun-tahun sebelumnya, aku lewati Ramadhan di perantauan. Setidaknya 10 tahun terakhir aku menghabiskan Ramadhan di tengah hiruk pikuk kota pahlawan. Suasana  Ramadhan di kota yang sibuk ini sangat berbeda dengan Ramadhan di kampung halamanku. Ramadhan sudah lewat satu pekan, tiba-tiba aku rindu suasana Ramadhan di sebuah desa kecil di kaki Gunung Kelud. Kenangan Ramadhan yang indah semasa kecil muncul kembali. Ramadhan spesial yang selalu ditunggu oleh semua orang, begitu juga denganku. Rinduku pada suasana Ramadhan benar-benar membuncah. Aku tiba-tiba menjadi melow.  Mungkin karena 10 tahun ini aku baru pulang ke kampung halaman sehari menjelang hari Raya Idul Fitri sesuai dengan jadwal cuti suami. Sehingga tak punya kesempatan menikmati berpuasa sebulan penuh di kampung halaman. 

Disini, penduduk kota sudah terlalu sibuk dengan rutinitas hingga banyak yang tak sadar Ramadhan sudah di depan mata. Sungguh berbeda dengan di kampung halamanku. Datangnya bulan Ramadhan selalu disambut antusias dengan adanya pawai Ramadhan sehari sebelumnya. Anak-anak dan para remaja masjid berkeliling menyusuri jalanan kampung dengan obor di tangan masing-masing. Begitu juga ketika malam tarawih. Semua orang berbondong-bondong ke mushola atau masjid terdekat untuk melaksanakan sholat tarawih. Para remaja sengaja tetap berada di mushola sampai dini hari menjelang sahur. Saat sahur tiba, mereka akan berkeliling kampung layaknya orang ronda membangunkan warga untuk sahur dengan alunan perkusi yang khas. Ronda remaja untuk membangunkan orang sahur ini tidak aku temui selama hidup di kota. Suara berisik perkusi dinilai mengganggu kenyamanan tidur orang-orang yang sedang tidak menjalankan ibadah puasa. Setidaknya itulah alasan yang pernah aku dengar dari tetangga yang sudah lama tinggal disini. Jadi, aku hanya mengandalkan alarm dari Handphone untuk bangun sahur. Terkadang seisi rumah tidak sahur karena  terlalu lelap tidur sehingga  tidak ada yang mendengar alarm berbunyi. 


Satu hal lagi yang membedakan melewati Ramadhan di kota dengan di kampung halaman. Jika di kampung halaman orang-orang yang tidak berpuasa sebisa mungkin tidak makan di sembarang tempat. Itu sebabnya tidak ada warung buka di siang hari untuk menghormati orang-orang yang sedang berpuasa. Kondisi ini berbeda dengan Ramadhan di kota. Tidak ada yang berbeda antara bulan Ramadhan atau bulan lainnya untuk urusan makan. Warung-warung makan tetap buka seperti biasa. Food Court di pusat-pusat perbelanjaan juga tetap penuh dengan orang-orang yang sedang menyantap makanan. Urusan puasa adalah urusan individu yang harus menahan diri untuk tidak tergoda apapun di luar dirinya. Bahkan seorang teman  pernah berrcerita bahwa hanya segelintir orang yang berpuasa di tempatnya bekerja. Pekerjaan yang berat menjadi alasan para rekan kerjanya tidak melaksanakan puasa Ramadhan. Alhasil, pemandangan makan bekal bersama saat istirahat tiba menjadi hal yang lumrah meski bulan Ramadhan. 

Kampung halaman selalu punya pesona tersendiri. Kampung halaman selalu memikat hati untuk kembali. Banyak yang dirindukan termasuk suasana Ramadhan seperti sekarang ini. Berbuka bersama keluarga besar, berbagi makanan ke sesama tetangga menjelang berbuka, dan masih banyak lagi hal yang tak pernah ditemui di kota-kota besar. Aku begitu rindu menikmati suasa Ramadhan kampung halamanku. Bagimana dengan kalian? Apa yang kalian rindukan dari kampung halaman kalian saat Ramadhan seperti ini? 





5 comments:

  1. Aku kangen makanan dan suasananya yang ramai pas di madura. Seru

    ReplyDelete
  2. Jadi kerasa banget rindu ramadhan jaman dulu, lebih sering denger anak2 remajarbangunin sahur jaman di rumah nenek di Madura. Lalu bunyi alarm dari masjid agung pertanda imsak. Huaaa

    ReplyDelete
  3. Mbak Tata, tulisanmu bikin baper! aku-pun mendadak kangen berlebaran dirumah eyang. Sayangnya seiring wafatnya eyang. tradisi itu sudah ga ada. Ramadhan Kareem ya mbak!

    ReplyDelete
  4. Aku merindukan lebaran di Makassar. Ramai dan pastinya bisa ziarah ke makam Bapak. Tapi tahun ini tidak bisa pulang.

    ReplyDelete