Tuesday, August 28, 2018

Sebagai Orang Tua, Apa Tujuan Kalian Menyekolahkan Anak?

Sebagai Orang Tua, Apa Tujuan Kalian Menyekolahkan Anak- Berkumpul dengan para emak selain membahas urusan seputar gossip artis dan make up tentu bahasan seputar anak tak pernah luput. Mulai bahasan tentang ASI atau susu formula, makanan rumahan atau instan, hingga dimana anak bersekolah menjadi bahasan yang tak pernah ada habisnya. Tentunya masing-masing punya alasan tersendiri terhadap pilihannya. Bagiku tidak ada yang salah, semua sudah berusaha memberikan yang terbaik untuk buah hatinya. Tapi, saat membahas alasan mereka menyekolahkan anak, sungguh membuatku geli. Sebagai sesama emak yang juga mempunyai anak sekolah, aku agak kaget ketika ada beberapa orang tua beranggapan bahwa tidak penting anak-anak sekolah dimana saja asal nanti bisa mendapat pekerjaan yang bagus. Meskipun dari segi finansial mereka mampu, tetapi lebih memilih menyekolahkan anak di sekolahan yang mereka sebut sekolah alakadarnya karena tidak berpengaruh apapun saat anak mencari kerja. Koneksi tetap menjadi hal terpenting, bukan dimana anak bersekolah.

Miris memang mengetahui tujuan mereka menyekolahkan anak sebatas menggugurkan kewajiban belajar 12 tahun. Mereka sibuk berfikir bagaimana anak kelak bisa bekerja dengan posisi tertentu di sebuah perusahaan bergengsi ketimbang memikirkan dimana anak bisa mendapatkan bekal ilmu yang cukup. Pekerjaan adalah bagian dari masa depan anak, tapi mengabaikan tempat menuntut ilmu anak karena satu alasan itu saja terasa kurang bijak, setidaknya itu menurutku. Karena masa depan tak hanya urusan pekerjaan semata. Begitu juga tentang ukuran kesuksesan anak, tidak hanya sebatas sudah mempunyai rumah dan mobil. Terkait ini, aku juga heran saat mendengar seorang mantan wali murid berkata kepada suami bahwa tidak penting anaknya akan melanjutkan sekolah dimana, karena sebagus apapun sekolah anaknya, dia tidak akan disebut sukses bila nanti belum bisa mendapatkan pekerjaan yang mapan, memiliki rumah dan mobil. 

Aku dan suami punya pemikiran berbeda tentang sekolah anak. Setidaknya kita berdua tidak berfikir menyekolahkan anak agar kelak dapat pekerjaan bergengsi. Kita yakin bahwa lingkungan punya andil dalam hal pembentukan karakter anak. Meskipun lingkungan keluarga menjadi pondasi terpenting untuk mendidik anak, tetapi akan lebih bagus bila diimbangi dengan lingkungan yang kondusif, termasuk lingkungan sekolah. Karena sekolah adalah  tempat anak menghabiskan waktu yang cukup banyak. Setidaknya separuh harinya dihabiskan di sekolah, sisanya untuk bersosialisasi di lingkungan sekitar.  Jadi, dimana anak akan menuntut ilmu sehari-hari menjadi sesuatu yang penting. Bahkan, kita sudah survei ke banyak tempat sebelum benar-benar memutuskan satu sekolah yang cocok untuk anak kita. 


Berbekal tujuan ingin mengantarkan anak untuk mempelajari tidak hanya ilmu umum saja, kita memilih menyekolahkan si sulung ke Madrasah. Kurikulum Madrasah sedikit berbeda dengan sekolah umum karena porsi Pendidikan agamanya lebih banyak. Kita ingin menanamkan dasar-dasar ilmu agama di usia sedini mungkin. Di Madrasah Pendidikan Agama dijabarkan lagi menjadi beberapa mata pelajaran seperti Fiqih, Alqur'an-Hadis, Aqidah Akhlaq, Bahasa Arab, dan Sejarah Kebudayaan Islam. Ada juga control mengaji, Tahfidz, dan ibadah lainnya. Sangat menyenangkan apabila orang tua bisa bersinergi dengan sekolah dalam hal mendidik anak. Harga yang kita keluarkan tidak sebanding dengan kesabaran para ustadz dan ustadzah dalam mendidik dan mendisiplinkan anak di sekolah. Jadi, urusan menyekolahkan anak bukan urusan sepele buat kita berdua. Ibaratnya, tak jadi soal harus memangkas anggaran beberapa pos asal anak bisa menuntut ilmu yang kelak menjadi bekal tak hanya di dunia, tapi di kehidupan yang lebih kekal. 

Jika kita mengingat bahwa kesuksesan tidak hanya diukur dari materi semata, maka kita bakal ikhtiyar semaksimal mungkin untuk mempersiapkan anak menyongsong masa depannya dengan baik. Termasuk memperhatikan bagaimana ia tumbuh kelak. Bagimana akhlaknya terhadap sesama, bagaimana hubungannya dengan Tuhannya, Bagaimana dia mendidik keluarga kecilnya, dan bagaimana dia bisa menjadi manusia yang menebar manfaat dimanapun dia berada. Semua ditentukan dari masa kecilnya. Semua karakter dibentuk  dari keluarga dan lingkungan di luar sana, termasuk  lingkungan sekolahnya. 

1 comment:

  1. Duluuu, masa pas aku baru lulus smu, mau cari tempat kuliah, yg ada dipikiranku, aku pgn cepet kerja mba. Makanya cari tempat kuliah yg bisa lgs kerja :p. Tp jelas lah ditentang abis2an ama papa yg memang akademisi bangeeeet. Papa ngajakin ngobrol, dia nanya apa tujuanlu kuliah sbnrnya. Pas aku bilang utk kerja, papa lgs sedih. Krn sbnrnya yg papa harepin, aku bisa dpt ilmu yg baik. Bukan utk kerja. Selesai ngobrol gitu, barulah aku kyk ditampar. . Lgs malu ama pikiran barusan..

    Sejak itu sih, apalagi skr udh punya anak gini, tujuanku menyekolahkan anak bukan lg semata supaya dia bisa kerja. Tp supaya ilmunya bisa dia serap, dia praktekin dlm kehidupan. Kalo seandainya papa ga prnh ngajakin aku ngobrol soal ini, mungkin sampe skr pikiranku bakal cupet trus :(

    ReplyDelete