Thursday, September 14, 2017

Karena Anda Menikah Dengan Manusia


Menikah itu tak sesederhana yang dibayangkan. Menyatukan dua insan dengan kepribadian masing-masing. Manusia dengan keunikannya, tentunya butuh energi untuk bisa memahami satu sama lain. Dalam proses tersebut tak jarang terjadi benturan yang bisa mengganggu stabilitas hubungan, jika kedua belah pihak tidak menyadari bahwa proses membangun teamwork dalam sebuah pernikahan itu memang tidak mudah. Benturan-benturan itu bisa muncul di awal pernikahan atau bisa juga ketika umur pernikahan sudah sekian tahun. 

Urusan menikah bisa serumit itu ya? Yupz karena anda menikah dengan manusia. Makhluk yang diciptakan Tuhan dengan kepribadian yang begitu komplek. Hingga  ada yang mengelompokkan kepribadian manusia menjadi empat kelompok yaitu Sanguine, Kolerik, Melankoli, dan Phlegmatis. Tak lain hanya untuk bisa lebih mudah memahami makhluk bernama manusia yang terkadang tinggi egonya.

Memuaskan Ego
Mengikuti berita tentang seorang istri ditemukan tewas dengan luka tembak beberapa waktu lalu, langsung menggiring ingatan saya tentang tulisan seorang pakar pernikahan yang membahas tentang “memuaskan ego” yang bisa menjadi sumber pertikaian dalam sebuah rumah tangga. Demi memuaskan ego, seseorang bisa menuntut sesuatu di luar batas kemampuan pasangan. Entah tuntutan materi ataupun tuntutan yang berkaitan dengan kepribadian pasangannya. Egonya lah yang membuat ia selalu menyalahkan pasangan. Ego telah berkuasa atas dirinya.

Begitulah manusia dengan ego yang melekat pada dirinya. Menjadi sesempurna malaikat adalah hal yang mustahil. Jadi  Yang bisa dilakukan adalah menekan ego yang ada pada masing-masing individu. Sebisa mungkin menuntun pasangan bukan malah menuntut. Karena pada dasarnya tak ada orang yang suka dituntut. Sehingga pada akhirnya  sebuah hubungan akan berjalan harmonis, tidak akan menjadi kandas hanya karena salah satu pihak memuaskan ego. 

Terima Aku Apa Adanya
Karena ego manusia juga, kalimat "terima aku apa adanya" sering terlontar dalam sebuah hubungan. Dalam pernikahan semboyan tersebut apakah benar sepenuhnya? Yuk kita kaji ulang. 

Jika anda menikah dengan seseorang dengan kepribadian yang kurang menyenangkan misalnya, dengan sifat suka ngambekan, tidak jujur, kurang bisa mengerti pasangan, hidupnya tidak disiplin, suka marah-marah, tidak romantis, suka mengeluh, dan sederet sifat yang kurang baik. Apakah anda akan betah hidup bersama dengan orang dengan kepribadian seperti itu dalam kurun waktu yang cukup lama? Anggap saja 35-40 tahun ke depan hidup bersama pasangan. Apakah anda tetap memegang kalimat "terima aku apa adanya?" Pasti dalam hati kecil anda ingin pasangan anda berubah lebih baik. Sama halnya dengan pasangan hidup anda, jika anda punya kepribadian kurang baik pasti ia ingin agar anda berubah. Jadi prinsip "terima aku apa adanya" sebenarnya tidak sepenuhnya berlaku saat kita sudah menikah. 

Tapi masalahnya membuat orang berubah itu tidaklah mudah. Ada tahapan yang harus dilalui oleh keduanya agar masing-masing tidak merasa terpaksa menjalaninya. Proses berubah menjadi pribadi baru yang lebih baik bisa disamakan dengan proses instal. Proses instal tersebut tidak bisa dilakukan secara dadakan. Kebanyakan orang ingin langsung mengubah kepribadian pasangan yang kurang sesuai dengan dirinya. Padahal proses yang instan tersebut rawan menimbulkan penolakan oleh yang bersangkutan. Alhasil konflik pun tak bisa dihindari. 

Trus Harus Bagaimana? 
Sebelum berfikir ingin mengubah seseorang, ada tahapan yang harus dilalui agar proses mengubah (instal) bisa maksimal. Menurut seorang konselor pernikahan Indra Noveldy mengatakan, Alur yang harus dilalui  bila ingin mengubah pasangan menjadi pribadi yang lebih baik sesuai dengan keinginan kita  adalah 

Nyaman  - Trust - Install

Nyaman 
Seseorang akan tetap mempertahankan sebuah hubungan bila ia merasa nyaman. Nyaman ini bersifat personal ya. Jadi kenali apa yang membuat pasangan nyaman dengan anda. Bila perlu tanyakan kepada pasangan apa yang membuatnya nyaman. Anda menikah dengan manusia yang isi hatinya tak pernah bisa ditebak. Namun indikasi awal  pasangan nyaman itu juga bisa dilihat dari tidak adanya kendala komunikasi antara keduanya. Pasangan bisa betah ngobrol berlama-lama dengan anda. Perasaan nyaman ini pondasi dasar, sangat krusial dalam sebuah hubungan pernikahan. Buatlah pasangan anda nyaman terlebih dahulu sebelum memasuki tahap selanjutnya. 

Trust 
Ketika pasangan sudah nyaman maka ia akan percaya sepenuhnya kepada anda. Ia akan bebas berekspresi di depan anda. Bisa leluasa curhat tanpa takut dinilai negatif atau dipandang rendah oleh anda. Membangun Trust ini butuh perjuangan dan proses yang tidak mudah. Anda bisa memulai percaya sepenuhnya kepada pasangan. Agar ia juga bisa percaya kepada anda. Trust ini bisa benar-benar tercipta asal kedua belah pihak bekerja keras untuk mewujudkannya. Lama tidak proses mewujudkannya tergantung pada anda dan pasangan. Karena tidak ada hubungan yang konstan dan stabil, selalu naik dan turun. Jadi dalam membangun trust, kedua belah pihak harus saling mengingatkan dan saling menguatkan satu sama lain.   Bila Trust sudah tercipta baru menuju ke tahapan selanjutnya yaitu proses Install.

Install 
Saat pasangan sudah nyaman dan trust sepenuhnya, baru bisa dilakukan install. Install disini semacam mensugesti pasangan untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Mengubah kepribadian pasangan tanpa paksaan. Seseorang yang sudah terlanjur nyaman dan trust pada anda, maka ia akan secara otomatis mengikuti saran yang anda berikan. Tak ada penolakan bahkan konflik. Yang ada hanya pemikiran bahwa anda peduli dan sayang dengannya. Misi anda mengubah pasangan pun berhasil. Hal tersebut berdampak juga pada keharmonisan rumah tangga. Yupz karena anda menikah dengan manusia, yang mempunyai sekeping hati yang bisa berubah bila mendapat sentuhan kepedulian dan kenyamanan. Tergantung dari sebesar apa ikhtiyar anda.




6 comments:

  1. Inspiratif sekali, membaca artikel ini bikin saya merenung lebih dalam mengenai hubungan antara sesama manusia

    ReplyDelete
  2. Kalo kata O Solihin "Bukan Pernikahan Cinderela", kita menikah tdk langsung terus bahagia for last ever....akan slalu ada masalah dan perenungan diri setelahnya.... Nice post mba

    ReplyDelete
  3. Mensugesti pasangan itu contohnya kayak gimana mbak?

    ReplyDelete
  4. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  5. intinya menikah itu harus saling bisa membuat orang yang sama, jatuh cinta setiap hari

    ReplyDelete