Belajar 4 Stadium Konflik Perkawinan dari Sinetron Era 90-an

http://www.rapifilms.com/page/detail/215/noktah-merah-perkawinan-iiiKalau kamu adalah Generasi 90-an tentu tidak asing dengan sinetron Noktah Merah Perkawinan. Iya ini lagi bahas sinetron. Sinetron dulu kala kan masih bagus ceritanya. Noktah Merah Perkawinan adalah salah satu sinetron  fenomenal yang dibintangi oleh aktor dan aktris senior. Ada tiga tokoh sentral dalam sinetron tersebut yaitu Priambodo (Cok Simbara), Ambarwati (Ayu Azhari), dan Yulinar (Berliana Febrianti). Sinetron tersebut garapan sutradara Buce Malawau . Sinetron produksi Rapi Films ini tayang setiap hari Senin - Jumat pukul 18.00. Yang menjadi daya tarik dari sinetron ini adalah karakter para pemain yang unik dan alur cerita yang manusiawi.

Karakter Para Pemain
Para pemain dalam sinetron Noktah Merah Perkawinan mempunyai karakter kekhasan masing-masing.  Karakter Ambar sebagai perempuan yang tegas dan tidak mau mengalah, sangat bertolak belakang dengan sang suami Priambodo yang terkesan tidak tegas sebagai seorang lelaki. Sedangkan sosok Yulinar adalah perempuan yang mau menerima keadaan namun tetap punya batas kesabaran.

Alur Cerita  
Alur cerita yang disuguhkan sangat manusiawi, realitas sosial yang sering terjadi pada sebuah perkawinan. Dalam cerita tersebut perkawinan Priambodo dan Ambar yang awalnya bahagia dan terasa lengkap dengan hadirnya dua buah hati  Ayu (Niken Ayu) dan Bagas (Perdana Batangtaris). Akan tetapi rumah tangga itu mulai guncang dengan adanya campur tangan orang luar meskipun masih bagian dari keluarga besar mereka. Konflik terjadi ketika keuangan keluarga mulai tidak stabil karena perusahaan Priambodo mengalami kemunduran. Sehingga Ambar memutuskan untuk bekerja lagi sebagai model. Profesi yang ditinggalkan sejak menikah dengan Priambodo. Keputusan tersebut ditentang oleh sang suami dengan alasan anak-anaknya yang masih membutuhkan sosok ibu di rumah. Konflik meruncing karena ibu dari masing-masing ikut campur dalam permasalahan rumah tangga mereka. Dan akhirnya perkawinan mereka pun kandas. Setelah berpisah dengan Ambar, Priambodo menikah dengan Yulinar. Perkawinan kedua Priambodo pun tidak berjalan harmonis karena Yulinar dibakar cemburu. Ia tidak terima saat mengetahui Priambodo ternyata masih menyimpan cinta untuk istri pertamanya Ambarwati. Priambodo  dan Ambar sebenarnya masih saling mencintai. Mereka berpisah karena situasi, bukan karena tak ada cinta lagi.
Setelah belasan tahun berlalu dan mengingat  kembali sinetron Noktah Merah Perkawinan, sebagai perempuan yang sudah menikah, ada poin penting dari sinetron itu yang bisa kita jadikan renungan dalam setiap perkawinan. Kita akan belajar tentang stadium konflik melalui sinetron tersebut. Jika kita bisa memahami stadium konflik yang terjadi dalam perkawinan kita, maka jalan perpisahan bisa kita hindari. Apa itu stadium konflik? Seorang Coach Relathionship Indra Noveldy menjabarkan ada 4 stadium konflik dalam sebuah perkawinan. Stadium tersebut untuk mengukur kadar permasalahan yang ada.

Stadium 1
Disadari atau tidak, sejak memutuskan menikah dengan pasangan kita, pasti banyak hal yang baru kita ketahui dari pasangan setelah kita mengucapkan janji suci. Karakter dan kebiasaan yang berbeda satu sama lain tak jarang menimbulkan perasaan tidak nyaman. Mulai dari kebiasaan pasangan yang tidak menaruh barang pada tempatnya, selera makanan yang bertolak belakang, hingga kebiasaan-kebiasaan lain yang sebenarnya sangat mengganggu. Namun karena masih “baru” semua perbedaan dan ketidaknyamanan tersebut diabaikan. Hal ini dinamakan konflik stadium 1, kondisi yang relatif belum banyak konflik terbuka. Lebih banyak membatin.
Berapa lama kondisi Stadium 1 ini? Tergantung masing-masing individu. Didiamkan saja atau mulai dikomunikasikan. Jika didiamkan saja dengan alasan mengalah atau tidak mau ribut, maka akan jadi bom waktu yang suatu saat akan meledak yang bisa memicu kearah perpisahan. Jika mencoba mengomunikasikannya, hasilnya tergantung dari cara mengomunikasikannya, skill yang dimiliki dan timing-nya. Bila kurang skill dan salah timing, malah jadi rebut dan masuk ke stadium 2.


Stadium 2
Ciri dari stadium 2 ini, yang tadinya hanya membatin atas segala ketidaknyamanan, sekarang sudah mulai tidak tahan ingin mengekspresikan rasa tidak nyamannya. Sudah mulai terjadi pertengkaran, sindiran, bahasa isyarat, dan bahasa tubuh yang menunjukkan rasa tidak senang dan tidak nyaman. Di stadium 2 ini perasaan terluka dan sakit hati mulai terakumulasi. Saling menuntut dan menyalahkan mulai sering terjadi. Jika komitmen dan kemauan untuk tumbuh bersama kurang kuat, pasangan seperti ini akan segera memasuki stadium 3.

Stadium 3
Di stadium 3 konflik terbuka sudah mulai terjadi. Kadang-kadang terjadi di depan anak. Masing-masing suka menyindir pasangannya di depan orang lain. Beberapa pasangan tidak tahan di stadium 3 ini dan mulai melirik sosok lain yang bisa memberi kenyamanan. Ada yang “melarikan diri” ke pekerjaan, hobi, bisnis, atau kegiatan sosial. Di stadium ini komunikasi sepertinya buntu. Ada yang segera menyadari bahawa  kondisi perkawinan yang sudah  kritis dan segera mencari solusi. Maka tak jarang meminta  bantuan pihak-pihak yang ahli dibidangnya yang bisa memulihkan keadaan. Namun ada juga yang tidak menyadari bahwa konflik perkawinannya sudah di stadium 3. Yang paling parah adalah menyadari bahwa konflik perkawinannya sudah stadium 3 tetapi apatis, sudah merasa tidak ada harapan. Ada pula yang memposisikan dirinya adalah korban dan menyalahkan pasangan. Pasangan dengan kondisi konflik stadium 3 seperti ini biasanya mengalami kelelahan mental yang luar biasa. Jika tidak segera mengambil tindakan mengawali untuk menyelesaikan, maka akan masuk ke konflik stadium 4.

Stadium 4
Di stadium 4 ini, biasanya ditandai dengan keinginan salah satu pasangan atau keduanya untuk berpisah. Ada yang terlontarkan saat bertengkar. Ada yang akhirnya tidur terpisah, beda kamar atau beda rumah. Bahkan ada yang sudah melayangkan surat gugatan cerai. Jika sudah ada di stadium 4, ibarat kanker, sudah sangat parah. Dibutuhkan komitmen, keberanian, dan usaha yang luar biasa untuk bisa menyelamatkan perkawinan. Namun, bukan berarti mustahil. Tetap ada harapan. Perbanyak mengingat tujuan awal menikah dan senantiasa meminta pertologan dan bimbingan-NYA. Karena hanya dengan izin-NYA dua manusia bersatu dalam ikatan perkawinan dan juga DIA maha membolak-balikkan hati manusia. Jangan pernah putus memohon kepada-NYA.
Di stadium 4 ini, pilihannya hanya do or die. Jika tidak segera action, maka akan menuju perpisahan. Jika masing-masing tidak mau berproses, maka kehancuran perkawinan adalah sebuah kepastian. Dan penyesalanpun akan hadir belakangan. Seperti cerita dalam sinetron Noktah Merah Perkawinan.

Wah ternyata konflik dalam sebuah perkawinan bisa berakibat fatal jika tidak segera ditangani. Ibarat kebocoran pipa saluran air dirumah, jika dibiarkan dan tidak segera diperbaiki, bocornya akan semakin besar dan butuh usaha yang besar juga yang harus dilakukan untuk memperbaikinya. Perpisahan akan menjadi sesuatu yang tidak bisa dihindari. Dan pada akhirnya anak-anaklah yang akan menjadi korban dari keegoisan orang tua.  So, ada di stadium berapa perkawinan kamu? Aku sendiri pernah ada di stadium 4, akan tetapi setelah jungkir balik berproses bersama pasangan, pertolongan-NYA pun hadir. Percayalah, jika kita mau berproses bersama, badai akan berlalu. Indahnya pelangi hanya ada setelah derasnya hujan. Nikmati prosesnya kawan. 
                                                                                                      

Comments

  1. Ha? Pernah ada di stadium 4? Masa sih, Ta? Tapi segera hadir pelangi indah kan pastinya :)
    Semoga ke depannya selalu sakinah mawaddah wa rahmah, ya :)

    ReplyDelete
  2. Haha...perkawinan juga ada stadium stadiumnya yak. Menarik juga. Memang sih kadang di ngga mesti mengalami, bisa belajar juga dari observasi di layar kaca ya Mbak..melalui sinetron salah satunya...

    ReplyDelete

Post a Comment