Monday, October 16, 2017

4 Alasan Harus Memaafkan Pasangan



Menjalani sebuah hubungan dengan seseorang yang mempunyai karakter yang berbeda dengan kita tentu bukan perkara mudah. Perselisihan bisa saja terjadi pada dua insan yang saling mencintai sekalipun. Kesalahan-kesalahan kecil terkadang menjadi pemicunya. Adakalanya sebuah kesalahan yang dilakukan oleh pasangan terasa begitu sulit untuk dimaafkan. Biasanya kesalahan yang sudah menyangkut prinsip hidup masing-masing, tak ada keinginan untuk memaafkan. Namun, bila kita bisa sedikit berpikir jernih, sebenarnya selalu ada celah untuk memaafkan kesalahan orang yang telah kita pilih menjadi bagian dari hidup kita. Jika dada terasa sesak karena tak mampu lagi memberi maaf atas kesalahan pasangan, coba lihat beberapa hal berikut :

Tak Ada Manusia Sempurna
Menuntut kesempurnaan dari diri pasangan adalah tindakan yang sangat naif. Karena pada dasarnya tak ada manusia yang sempurna. Kesalahan sebesar apapun yang telah dilakukan pasangan yang melanggar prinsip-prinsip dalam rumah tangga, tidak lantas membuat kita menyalahkan pasangan secara membabi buta. Menekan sedikit perasaan dan mengedepankan logika adalah sikap yang bijak. Setiap manusia berhak atas sebuah kesempatan. Kesempatan untuk menjadi manusia yang lebih baik. Sama halnya ketika Tuhan yang tidak serta merta menghukum Iblis atas kesalahan yang diperbuat, melainkan memberinya sebuah kesempatan.

memaafkan dan memberi sebuah kesempatan untuk berubah ternyata menjadi salah satu rahasia keharmonisan dan kelanggengan rumah tangga orang-orang terdahulu seperti kakek nenek kita. Yupz, sesederhana itu. Memaafkan dengan tulus pasangan hidup kita dan memberikan sebuah kesempatan untuk berubah menjadi pasangan yang lebih baik bisa menyelamatkan sebuah hubungan dari kehancuran. Berusaha memahami bahwa setiap orang pasti tak luput dari sebuah kekhilafan, apapun bentuk kesalahan tersebut jika dilihat dengan kejernihan hati, maka akan selalu ada hikmah yang bisa diambil. Sehingga proses memaafkanpun akan lebih mudah.

Tak Ada Guna Memendam Amarah
Mememndam amarah dan kebencian kepada pasangan justru akan membuat hati lelah. Sehingga melepas segala beban yang menimbulkan amarah adalah solusinya. Waktu tak bisa berjalan mundur mengembalikan keadaan. Jadi memendam amarah yang tak berkesudahan kepada pasangan akan menguras energi kita. Jika mulut sudah berucap maaf sudah seharusnya dibarengi dengan meredamnya sebuah amarah di hati. Jangan biarkan amarah terlalu lama menguasai hati.

Ingat Kebaikan Pasangan
Tak jarang karena nila setitik maka rusak susu sebelanga. Begitu juga dalam sebuah hubungan. Satu kesalahan terkadang menutup semua kebaikan yang telah dilakukan selama ini. Seseorang tak bisa memaafkan kesalahan yang telah diperbuat pasangan dengan mengabaikan kebaikan-kebaikannya selama menjalani kehidupan bersama. Sangat disayangkan memang namun seperti itulah yang sering terjadi di sekitar kita. Padahal kesalahan tersebut masih tak sebanding dengan hal positif lainnya yang dimiliki pasangan. Jadi, ingatlah segunung kebaikan pasangan maka akan mempermudah proses memaafkan kesalahan yang telah dilakukan oleh pasangan.

Demi Ketenangan Hati
Memaafkan akan menenangkan hati. Meskipun pada prakteknya memaafkan tak semudah yang diucapkan orang. Apalagi memaafkan sebuah kesalahan yang dilakukan pasangan dengan penuh kesadaran. Akan tetapi demi sebuah kelegaan hati dan ketenangan jiwa lebih baik memaafkan secara perlahan. Berusaha melihat sebuah kesalahan dari sudut pandang yuang berbeda. Menganggap kesalahan yang dilakukan pasangan adalah bagian dari ujian dari sebuah hubungan. Karena sebuah hubungan yang tak selamanya bisa berjalan mulus. Selalu ada aral yang melintang.

Jadi, apapun kesalahan pasangan, jika masih ada celah untuk berubah untuk lebih baik maka maafkanlah. Dan lihat betapa lebih harmonis hubungan kalian setelah itu. 

4 comments:

  1. Kalau sudah marah 1-3 lewat..
    Yang terakhir biasanya sering lebih bisa mengontrol. Itu kalau saya... :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul kalau sudah marah kadang lupa banyak hal

      Delete
  2. Dengan pasangan (di sini berarti suami saya) memang harus banyak-banyak kompromi. Belajar berkompromi dan memaafkan memang benar butuh waktu yang tidak singkat. Terimakasih sarannya ya Kak... ^_^

    ReplyDelete