Thursday, September 20, 2018

Tips Menitipkan Balita Tanpa Drama

Tips Menitipkan Balita Tanpa Drama- Salah satu alasanku memilih bekerja sebagai seorang freelancer adalah  agar bisa menemani anak-anak di rumah. Yupz, menekuni dunia blog yakni menjadi seorang blogger akhirnya menjadi pilihanku. Aku memang suka dengan dunia tulis menulis sejak dulu. Selain itu pekerjaan seorang blogger sebagian besar bisa dihandel dari rumah karena semua bentuk  kerjasama dengan klien  dikomunikasikan melalui email. Jika harus menyelesaikan deadline menulis, biasanya aku kerjakan saat anak-anak sudah tidur. Namun, seiring berjalannya waktu, ada beberapa kondisi yang  mengharuskanku meliput sebuah event. Untuk si sulung Agha tentu tidak ada masalah karena dia sekarang sudah duduk di bangku sekolah dasar. Berangkat dan pulang sekolah bersama ayah. Si kecil Gia yang selama ini aku khawatirkan. Dia terbiasa lengket banget denganku. Mustahil bisa meninggalkannya untuk berangkat liputan event. Kecuali ada ayah yang menemani. Itu sebabnya selama ini aku hanya mengambil pekerjaan yang mengharuskanku datang ke lokasi saat akhir pekan saja. Si ayah yang libur hari sabtu bisa menghandel Gia saat aku menunaikan tugas.

Selama ini aku memang sering menolak tawaran pekerjaan yang mengharuskanku datang ke lokasi di hari kerja. Beberapa pekerjaan tidak memungkinkan membawa balita ke lokasi. Bila diperbolehkan membawa balita sekalipun,  aku selalu berpikir dua kali untuk mengajak Gia bersamaku. Dia anak yang moody, dipastikan bakal tidak betah berlama-lama di tempat baru.  Beberapa bulan terakhir aku  mulai berpikir untuk mengambil pekerjaan di hari biasa. Memang saat itu masih sekedar wacana. Aku belum berani benar-benar meninggalkan Gia untuk pekerjaan selain akhir pekan. Aku punya pemikiran seperti itu  karena Gia sekarang sudah 2.5 tahun dan sudah tidak tergantung dengan ASI. Pasti lebih mudah mengalihkan perhatiannya dengan berbagai jenis makanan. Ketika tidurpun tidak harus nenen lagi. Asal dielus punggungnya dia sudah bisa memejamkan mata. Lantas siapa yang bisa menghandel Gia saat aku tinggal? si Ayah tentu masih kerja karena bukan akhir pekan. Meskipun hanya meninggalkan si kecil 2-4 jam, tapi penting banget memastikan dia nyaman dengan orang yang menemaninya. Bila selama ini dia hanya mau ditemani ayah atau bunda, mungkinkah dia mau ditemani orang lain selain kita berdua? Banyak pertanyaan di benakku sebelum akhirnya aku menemukan solusi agar Gia mau dititipkan sebentar ke orang lain tanpa drama.

Memilih Orang Terdekat

Hal pertama yang terlintas adalah siapa orang yang tepat dan mau dititipi Gia selama 2-4 jam. Selama ini aku hanya tinggal bersama keluarga kecilku tanpa ada lagi orang lain di dalam rumah, termasuk asisten sekalipun. Kakek nenek Gia juga tinggal jauh di luar pulau. Tidak mungkin menitipkan ke tetangga karena di perumahanku orang sudah sibuk dengan urusan masing-masing. Bertemu dengan tetangga juga jarang. Mereka rata-rata adalah pekerja yang berangkat pagi dan pulang menjelang senja. Meskipun ada satu tetangga yang lumayan akrab dengan Gia. Karena Gia sering main ke rumahnya untuk bermain bersama cucu keluarga itu yang usianya hanya terpaut beberapa bulan dari Gia. Mereka juga sering menawarkan diri bersedia menjaga Gia jika dibutuhkan, tetap saja aku tidak tenang kalau harus menitipkan Gia ke mereka.  Akhirnya pilihan jatuh kepada adik ipar alias tantenya Gia. Berhubung rumah tante lumayan jauh maka seminggu tiga kali aku membawa Gia main ke rumah tantenya. Kebetulan disana ada ponakan yang seusia Gia. Membiasakan dia agar mau bermain bersama sepupunya adalah target awal. Kemudian baru membiasakan dia nyaman dengan tantenya. Selama di rumah tantenya, aktivitas menyuapi hingga memandikan Gia dilakukan oleh tante, dalam rangka membangun kedekatan emosional. Tidak butuh waktu lama untuk membuat Gia nyaman bersama tante dan sepupunya. Dua minggu dia sudah lengket dengan si tante. Baru minggu ke 3 aku berani menerima tawaran meliput event di hari kerja dengan menitipkan Gia ke tantenya sampai si ayah datang menjemputnya. Gia bersama tante sekitar 2 jam. 

Menyiapkan Apa yang Dibutuhkan 

Sebelum meninggalkan si kecil bersama tantenya, aku menyiapkan segala kebutuhan Gia. Mulai dari baju ganti, susu UHT yang biasa dia minum sampai makanan yang dia sukai. Semua aku persiapkan dari rumah. Bahkan beberapa mainan kesukaannya sengaja aku bawa untuk berjaga-jaga jika dia rewel. Meskipun hanya meninggalkan si kecil 2-4 jam tapi memastikan semua kebutuhannya tersedia sangat penting. Berhubung Gia belum lancar berbicara, aku harus memberitahu tantenya beberapa kode yang biasa dilakukan Gia saat menginginkan sesuatu. Karena tantenya tidak setiap hari bersama Gia, jadi wajar terkadang tidak paham dengan beberapa bahasa yang digunakan Gia untuk menunjuk barang. Jangan sampai dia tantrum hanya karena tantenya tidak paham dengan apa yang diinginkannya. Maka perlu melakukan "briefing" singkat sebelum aku berangkat. Tak cukup itu saja, aku masih meninggalkan uang saku untuk Gia meskipun jajan yang aku tinggalkan untuknya lumayan banyak. Hal itu aku lakukan untuk mengantisipasi bila Gia tiba-tiba tidak mau dengan makanan yang sudah ada dan ingin membeli jajan di toko dekat rumah tantenya.  

Berpamitan 

Meskipun hanya pergi dalam durasi 2-4 jam, tetap perlu untuk berpamitan dengan balita yang akan ditinggalkan. Kecuali si kecil sedang tertidur pulas saat akan ditinggal. Berpamitan untuk berangkat kerja ini aku lakukan sejak masih di rumah. Balita 2.5 tahun yang belum fasih berbicara tetap paham dengan bahasa sederhana yang dikatakan oleh orang tuanya. Begitu juga dengan Gia. Dia merespon dengan kata-kata sebisanya saat aku mengatakan bahwa aku akan bekerja dan Gia di rumah tante, bermain bersama adik caca (nama sepupunya). Pengkondisian seperti ini penting. Jadi, dia tetap tidak mencari bundanya saat terbangun dari tidur siang dan mendapati aku sudah berangkat ke lokasi liputan. Dia tetap ceria bermain bersama sepupunya serta mau mandi dan makan tanpa drama. Setidaknya hal tersebut membuatku tenang karena anakku nyaman dan tetap ceria saat aku tinggal dalam hitungan jam.

Sebenarnya 3 tips di atas juga bisa diterapkan buat para bunda yang setiap hari selama 24 jam selalu bersama balitanya namun ingin sesekali pergi tanpa membawa si kecil. Ketika menerapkan 3 tips di atas, dipastikan balita bisa ditinggal dengan tenang ketika bunda ingin keluar rumah sekedar ke klinik kecantikan, berbelanja, atau bertemu dengan para sahabat di luar rumah. Sesibuk apapun seorang ibu tetap butuh acara me time agar pikiran tetap waras tentunya tanpa ada backsound rengekan si kecil. Entah seminggu sekali ataupun sebulan sekali. Karena ibu yang bahagia akan menularkan energi positif kepada seisi rumah. 


1 comment:

  1. Alhamdulillah, si Gia sudah makin besar ya mbak, bisa main bareng dn dipamitin bundanya kalau datang event, hip hip.. Horeee.. Selamat ya mbak, tipsnya jitu deh�� bisa dicoba nih..

    ReplyDelete