Wednesday, August 1, 2018

Ibu Zaman Now, Pilih Nabung atau Investasi?

Ibu Zaman Now, Pilih Nabung atau Investasi-Sejak menjadi istri dan Ibu dari dua bocah, aku pelan-pelan belajar bagaimana mengelola keuangan keluarga. Mulai membuat anggaran belanjaan bulanan, perincian belanja harian seperti belanja sayur dan lauk pauk, hingga berfikir bagaimana bisa menyisihkan sebagian penghasilan suami untuk keperluan jangka panjang. Aku yang saat itu belum memiliki penghasilan sendiri harus memutar otak bagaimana pemasukan yang dari satu pihak yakni suami, tidak habis untuk barang konsumtif semua. Ketika anak-anak memasuki dunia Pendidikan nanti, maka butuh dana yang tidak sedikit. Saat itu yang terfikir di benakku adalah aku harus bisa menyisihkan uang, aku harus menabung. Kemudian aku mencoba beberapa cara, mulai dari membuka tabungan di bank, menggunakan celengan tradisional, menabung di Koperasi PKK, hingga membuka tabungan logam mulia.


Aku memiliki beberapa celengan ayam, setiap hari celengan tersebut aku isi dengan nominal berbeda-beda. Aku tidak pernah absen mengisi celengan ayam dengan lembaran rupiah. Bahkan sebelum berangkat belanja sayur, aku sempatkan untuk menyapa celengan klasikku. Setiap awal bulan aku juga rutin mentranfer sejumlah uang ke rekening khusus tabungan dan menabung di Koperasi PKK yang hanya boleh diambil menjelang lebaran. Apabila masih mempunyai uang berlebih, aku pergi ke pegadaian terdekat untuk menabung logam mulia. Aku berusaha konsisten menyisihkan uang terlebih dahulu sebelum membeli keperluan lainnya. Lantas, apakah aku berhasil menabung banyak? yupz, aku berhasil menyisihkan banyak uang. Tapi di akhir tahun selalu habis. Ada saja alasan untuk mengambil uang dalam tabungan.

Godaan belanja barang-barang diskon, eksplore tempat wisata baru di kampung halaman dan kuliner menjadi alasan menguras tabungan. Padahal cita-cita pengen bisa menabung untuk hari tua mumpung masih produktif seperti ini. Bagaimana uang bisa terkumpul banyak jika tangan selalu mudah menggesek kartu ATM. Menikmati masa tua dengan tenang tanpa merepotkan keluarga bakal menjadi impian semata bila aku tidak segera mengubah strategi menyisihkan uang. Akhirnya aku mencoba melirik yang namanya Investasi. Karena kata seorang teman yang ahli di bidang ekonomi, tabungan akan selalu tergerus oleh inflasi. Aku yang sebelumnya hanya tahu tentang investasi dari mata kuliah Pasar Modal zaman kuliah dulu, pelan-pelan mulai membuka hati untuk mengenal lebih dalam bentuk-bentuk Investasi. Pilihanku jatuh pada investasi Reksa Dana.

Apa itu Reksa Dana? 

Reksa Dana adalah program investasi yang menggabungkan modal dari banyak investor, dan berinvestasi pada beragam instrumen, serta dikelola secara professional oleh perusahaan pengelola asset (Manajer Investasi). Aku memilih investasi Reksadana bukan tanpa alasan. Reksa Dana punya beberapa kelebihan. Diantaranya:
  • Fleksibel  artinya banyak pilihan produk sesuai kebutuhan investasi
  • Likuid artinya bisa dicairkan kapan saja
  • Aman artinya terdaftar dan diawasi oleh OJK
  • Bebas Pajak artinya hasil investasi reksadana tidak dipotong pajak
  • Terjangkau karena bisa mulai dari 10rb
Selain alasan di atas, 3 faktor yang ada dalam diriku juga menjadi pertimbangan tersendiri kenapa memilih berinvestasi Reksa Dana. Aku tipe orang yang  punya modal dan waktu terbatas serta pengetahuan yang minim tentang dunia investasi, maka memilih Reksa Dana adalah langkah yang tepat. Reksa Dana punya produk bervariasi, bisa dipilih sesuai dengan kebutuhan. Berdasarkan potensi hasil, fruktuasi dan jangka waktu investasi, ada 4 produk Reksa Dana yaitu Reksa Dana Pasar Uang, Reksa Dana Pendapatan Tetap, Reksa Dana Campuran, dan Reksa Dana Saham. Untuk pemula sepertiku disarankan memilih Reksa Dana Pasar Uang yang minim resiko. Ibarat orang berenang, pilih kolam renang yang dangkal terlebih dahulu.



Reksa Dana Manulife

Jika sudah mengetahui jenis reksa dana apa yang sebaiknya dibeli, hal selanjutnya yang harus dipertimbangkan adalah siapa manajer investasinya? Apakah ia sudah cukup teruji dan bertahan di tengah krisis? Sebab bukannya tidak mungkin manajer investasi bangkrut. Pilihlah perusahaan yang kinerjanya terbukti baik, salah satunya adalah Manulife. PT Manulife Asset Manajemen Indonesia sudah 19 tahun beroperasi di Indonesia. Selama ini aku hanya tahu bahwa Manulife berkaitan dengan asuransi saja. Ternyata setelah mengikuti acara Kopdar Investarian SUB 1 minggu lalu, pengetahuanku bertambah. Manulife  juga mempunyai produk Reksa Dana dengan tim investasi yang berpengalaman rata-rata 12 tahun.

Adanya tim yang sudah berpengalaman dalam urusan investasi membuatku tidak khawatir akan kehilangan uang yang sengaja dikumpulkan sedikit demi sedikit. Asyiknya memilih Manulife sebagai manajer investasi Reksadana itu tidak hanya karena perusahaan tersebut sudah tidak diragukan kredibilitasnya saja, namun ada kelebihan lainnya, Yaitu: 

EDUKASI
Setiap calon investor selalu diedukasi terlebih dahulu oleh pihak Manulife sehingga calon investor paham cara kerja Reksa Dana Manulife. Memastikan calon investor percaya sepenuhnya dengan Manajer investasi dan dengan senang hati mau berinvestasi tanpa paksaan.

HEMAT BIAYA
Reksa Dana Manulife tidak membebankan biaya pembelian. Maka, 100% dana investor menjadi modal investasi, tidak dipotong.

ONLINE SAJA
Sudah bukan rahasia umum lagi bila zaman sekarang semua serba online. Segala urusan lebih praktis adanya fasilitas online. Begitu juga dengan Reksa Dana Manulife. Investor dapat melakukan transaksi (beli, jual, alihkan), dan memonitor pertumbuhan investasinya kapan saja, di mana saja, lewat klikMAMI.com


LANI
Layanan Investasi MAMI - siap membantu  setiap hari, jam 08:00-22:00 WIB, lewat telepon, e-mail, bahkan live chat.



Bagaimana para ibu zaman now? sudahkan siap merubah mindset cara menyisihkan uang belanja? tetap memakai cara menabung lewat bank, tabungan emas, atau tabungan klasik berupa celengan sah-sah saja. Tapi jika  ada cara menyisihkan uang yang lebih praktis dan bisa diandalkan di masa depan tanpa banyak godaan, kenapa tidak dicoba? Aku sudah mencoba, kalian kapan? 










6 comments:

  1. Jadi melek investasi deh saya, dan tertarik akan reksa dana :)

    ReplyDelete
  2. Ibu-ibu harus berpikir tentang investasi ya mbak. urungkan niat belanja dulu, sisanya ditabung, hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. yups gak boleh tergoda diskonan terus ya mbak

      Delete
  3. Seharusnya semua ibu2 melek investasi seperti mba :). Aku dulu juga begitu, nabung di bank, tp yaaa hanya nabung. Setwlah kerja di bank, aku jd sadar nabung itu ga bisa diharepin utk masa tua. Nilai uang nyusut karena adanya inflasi. Kalo tujuan nabungnya utk masa depan, ya hrs cara lain, misalnya di reksadana ato obligasi :).

    Beruntungnya krn aku kerja di salah satu bank asing, di tempatku banyak menjual aneka jenis reksadana, mulai dr manulife, ashmore, bnp paribas, schrodder dll. Dan sebagai staff fee pembelianya dpt yg spesial ato bahkan gratis. Itu aku manfaatin banget. Belilah reksadana di saat harganya turun/anjlok. Banyak orang2 yang ga terlalu ngerti dan lgs panik begitu tau reksadananya turun drastis, trus lgs cepet2 redeem. Alasannya utk cut loss. Padahal justru di saat itu harusnya dia membeli lagi unit reksadana lain. Kalo seseorang udh memutuskan beli reksadana, artinya dia hrs tau ini baru bisa dirasakan stlah 5 thn ke atas. Bukan dlm wkt singkat. Kalo memang mau singkat, jgn di reksadana. Cari produk lain yg lbh aman.

    Membeli reksadana ini juga hrs disesuaikan dgn risk profilenya. Sebelum membeli, kalo di bank, staffnya lgs meminta nasabah utk mengisi yg namanya risk questionnaire. Utk memastikan si nasabah masuk ke dlm tipe apa. Kalo aku, speculative, yg artinya aku risk taker. Berani ambil resoko tinggi, tp dgn imbal hasil besar :). Jadi produk yg bisa aku beli, cakupannya jelas lbh banyak.

    Tp orang dgn risk profile rendah, ga boleh disarankan utk membeli produk reksadana yg beresiko tinggi. Krn dia bisa panik nanti kalo nilainya jatuh :). Dan di bank, kalo ketahuan kita menjual reksadana resiko tinggi ke orang yg risk profilenya rendah, itu penaltynya lumayan. Bisa sampe kena warning letter dr kantor :). Makanya utk semua nasabah ato siapapun yg mau beli reksadana, pastikan risk profile kalian seperti apa :). Supaya ga salah beli produk.

    ReplyDelete