Monday, April 16, 2018

Uniknya Kampung Indian Di Lereng Gunung Kelud Kediri

Siapa sangka di lokasi yang tidak begitu jauh dari rumah orang tua telah dibuka beberapa tempat wisata, salah satunya adalah Indian Village atau kampung indian. Tempat wisata ini tergolong baru karena baru ada pertengahan tahun 2017. Aku yang jarang mudik hanya tahu Puncak Gunung Kelud sebagai tempat wisata yang dekat rumah. Nah, Ketika adikku yang masih duduk di bangku SMA bersedia menjadi pemandu gratisan ke Kampung Indian, aku semangat sekali. Apalagi sebelumnya aku melihat foto-foto kece adik saat  hunting foto bareng teman-temannya disana beberapa bulan lalu. Tanpa pikir panjang aku menerima ajakannya. Akhirnya kita berangkat menggunakan dua motor. Adik membonceng mas Agha, sementara aku dan si kecil Gia dibonceng suami. 

Kita berangkat dari rumah sekitar pukul 9 pagi. Hal yang aku suka selama perjalanan ke arah Gunung Kelud adalah pemandangan yang indah di kanan dan kiri jalan. Hari itu cuaca sangat cerah. Aku bisa melihat birunya langit lengkap dengan awan putih yang mempesona. Hembusan angin sejuk menerpa wajahku di atas motor. Hamparan perkebunan warga dan pepohonan hijau  di sepanjang jalan membuat udara lebih segar. Memasuki desa ngancar hawa dingin mulai terasa karena sudah termasuk daerah lereng Gunung Kelud. Berada di lokasi yang dekat dengan Puncak Kelud mataku langsung tertuju pada batu-batu besar yang ada di halaman rumah warga. Batu-batu besar itu menjadi bukti bahwa beberapa tahun lalu letusan Gunung Kelud telah merusak sebagian besar rumah di desa itu. Ah, menjalani kehidupan yang damai di desa yang asri harus siap dengan resiko gunung meletus sewaktu-waktu karena berada di lereng gunung. 

Salah satu foto adik saat di kampung indian

Perjalanan semakin dekat dengan lokasi wisata. Tapi entah kenapa tiba-tiba adik memutuskan untuk singgah terlebih dahulu ke Taman Agro Margomulyo Gunung Kelud. Setelah puas hunting foto, kita segera menuju Kampung Indian. Kita tiba di area parkir tempat wisata ini sekitar pukul 12 siang. Kebayang dong panasnya. Kayaknya kita terlalu terpesona dengan bunga-bunga indah di taman agro sehingga lupa dengan tujuan awal ingin ke kampung indian. Berada di area terbuka saat matahari tepat di atas kepala tentu mengurangi kenyamanan. Alih-alih menikmati suasana yang ada di dalam lokasi Kampung Indian, aku dan adik sibuk mencari tempat yang teduh agar tidak kepanasan. Sedangkan suami dan si sulung Agha begitu antusias mengeksplor setiap sudut Kampung Indian. Berikut ini video singkat tentang suasana di dalam Kampung Indian. Berhubung pengambilan videonya dilakukan oleh adik yang masih amatiran jadi hasilnya kurang maksimal. Tapi setidaknya bisa memberi gambaran situasi di dalamnya. 



Lokasi wisata Kampung Indian lumayan luas. Saat memasuki lokasi, terdengar alunan musik yang khas dan segerombolan orang yang menari. Benar-benar berasa di tengah-tengah suku indian. Di dalam kampung indian ada banyak tenda-tenda kecil dan beberapa tenda besar. Tenda-tenda itu adalah rumah suku indian yang biasa disebut Tepee. Tenda atau tepee yang ada disni juga disewakan bagi yang ingin merasakan sensasi hidup di alam liar layaknya suku indian yang ada di benua Amerika. Untuk menyempurnakan diri sebagai suku indian, pengunjung juga bisa menyewa atribut suku indian seperti topi khas suku indian yaitu warbonet. Harga atributnya bervariasi mulai dari lima ribu rupiah tergantung dari besar kecilnya  atribut. Harga yang sangat bersahabat bahkan di kantong pelajar sekalipun. Karena selain rombongan ibu-ibu, banyak juga pengunjung yang masih pelajar. Meskipun mereka tidak memakai seragam sekolah karena saat itu akhir pekan, tapi wajah unyu-unyu mereka sudah cukup menunjukkan kalau mereka masih berstatus pelajar SMP dan SMA. 

Tenda 


Melihat kehebohan pengunjung berfoto di depan tenda sambil memakai atribut suku indian membuatku ingin menyewa warbonet juga. Tapi ternyata si kecil Gia menangis histeris saat melihat adikku memakai atributnya. Rencana narsis dengan atribut suku indianpun gagal. Akhirnya hanya bisa berkeliling lokasi menjadi pengamat sesama pengunjung saja. Selain tenda-tenda mini, ada dua kolam renang bagi pengunjung yang ingin berenang. Bagi yang ingin hunting foto sebanyak-banyaknya, ada spot foto lainnya yang instagramable. Di bagian atas Kampung indian ada rumah panggung yang bisa digunakan untuk berfoto. Disana pengunjung bisa melihat Suasana Kampung Indian dari atas. Tapi untuk mencapai lokasi tersebut harus rela naik turun anak tangga dengan derajat kemiringan yang bikin perut mules. Aku yang saat itu sedang menggendong Gia harus ekstra hati-hati ketika meuju lokasi rumah panggung. Setelah puas menikmati keindahan dari atas, kita memutuskan turun dan bergegas pulang. Si kecil Gia sudah mulai rewel karena sudah waktunya jam tidur siang. Kali ini memang kita datang ke Kampung Indian pada jam yang kurang tepat. Andai kita datang pagi atau sore hari mungkin lebih bisa menikmati suasana kampung indian karena lebih adem.


Pengunjung sibuk berfoto dengan memakai warbonet

Rumah pohon terlihat dari bawah

Mas Agha berada di bagian atas kampung indian

turunnya harus hati-hati, apalagi sambil gendong Gia









2 comments:

  1. waaah... pengen banget ke sini. kayaknya keren banget ya, mbak? Btw, nggak ada tiket masuknya mbak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada. Karna sangat murah sampai lupa mau nyantumin. Tiket masuknya 5rb saja.

      Delete