Tuesday, January 9, 2018

Genap Setahun Tertatih Di Dunia Freelance


Aku masih sangat baru di dunia yang satu ini. Tepatnya masih satu tahun aku menjalani pekerjaan yang sepintas mirip orang pengangguran. Karena tidak seperti orang bekerja pada umumnya yang berangkat pagi dan pulang sore hari. Aku hanya bekerja di dalam rumah dan sesekali pergi ke sebuah event jika diundang oleh sebuah brand. Saat harus datang ke event pun tidak terlihat seperti orang bekerja karena sebagian besar tempatnya adalah di pusat perbelanjaan saat weekend pula. Seperti lagi hangout saja padahal sedang bekerja. Apalagi seringnya pergi ke sebuah event bersama suami dan anak-anak. Sempurna sudah dikatakan lagi family time di hari libur. 

Keputusan masuk di dunia freelance bukan sebuah keputusan emosional semata. Bukan berarti sebelumnya aku tidak mencoba pekerjaan lain. Sebagai lulusan Hukum Islam Perdata sudah sewajarnya aku berpikir akan melamar pekerjaan yang masih berkaitan dengan jurusanku. Dulu aku ingin bekerja di Pengadilan Agama atau minimal di kantor advokat, dengan alasan ingin mengaplikasikan ilmu hukum yang aku pelajari selama kuliah. Tapi ternyata mencoba bekerja di kantor Notaris sebelum lulus kuliah sebentar saja aku tidak betah. Mengerjakan pekerjaan yang sama setiap hari dibalik meja kerja yang formal membuatku bosan. Akhirnya setelah lulus aku sudah tidak punya keinginan untuk bekerja kantoran. 

Setelah mempunyai anak peluang untuk bekerja keluar rumah juga berkurang. Aku memilih menjadi guru privat yang dibutuhkan hanya dua kali saja dalam seminggu. Namun aku tak bertahan lama dengan profesi itu. Anakku lama-lama tidak mau ditinggal di rumah bersama ayahnya. Akhirnya aku dan suami mencoba peruntungan dengan berdagang. Mengelola "tata collections" sampai mempunyai banyak reseller baik offline maupun online. Aktivitas tersebut harus terhenti saat aku hamil anak kedua dan harus bedrest. Aku pun sempat vakum hanya fokus dengan rutinitas ibu rumah tangga pada umumnya. Sampai peluang untuk menghasilkan lembaran rupiah lewat sebuah tulisan datang akhir 2016 lalu. Aku mendapat tawaran kerjasama mereview sebuah produk. 

Tidak pernah terfikir sebelumnya akan memilih dunia freelance sebagai tempat berlabuh. Dunia tulis menulis memang bukan dunia baru bagiku. Sudah sejak lama aku memilih mengabadikan setiap kisah dalam hidup lewat sebuah tulisan. Tapi tidak pernah menyangka hobi menulisku ini bisa menghasilkan deretan angka di rekening pribadiku. Awalnya aku hanya termotivasi oleh seorang teman lama untuk menulis hal-hal yang bermanfaat untuk pembaca lewat media blog. Teman lama yang sangat berjasa ini dulu adalah senior kampus yang sangat aku kagumi karena sebuah karya fenomenalnya. Sampai detik ini aku tidak pernah melupakan semua kebaikannya. Ia adalah orang pertama tempatku bertanya tentang banyak hal terutama yang berhubungan dengan sebuah tawaran pekerjaan. Karena memang beliau sudah lebih dulu mencari seorang freelancer

Menjadi orang baru yang masih awam dengan dunia freelance membuatku harus bisa cepat beradaptasi. Terutama dengan teman sesama freelancer yang kebetulan bertemu di sebuah event. Sama halnya dengan rekan kerja di kantor, teman sesama freelancer juga beragam modelnya. Ada yang sudah makan asam garam dalam dunia freelancer tapi tetap rendah hati dan ramah dengan para pendatang baru di dunia freelance seperti diriku. Mereka sudah senior dengan segudang karya tapi masih telaten membimbing para junior. Tapi ada pula yang sebaliknya. Manusia memang tak sama. 

Aku bersyukur bertemu dengan teman-teman yang baik selama ini. Mereka orang lain yang kebetulan sesama freelancer tapi sudah seperti saudara sendiri. Mereka yang sudah terjun di dunia freelance terlebih dahulu tanpa ragu berbagi pengalaman dan mau berbagi info jika ada  peluang pekerjaan. Meskipun seringnya aku harus mencari sendiri peluang pekerjaan lewat berbagai komunitas freelancer atau melakukan penawaran kerjasama dengan brand. Bagiku itu pekerjaan yang tidak mudah karena harus meluangkan waktu khusus untuk berburu peluang. Belajar bekerjasama dengan beberapa brand juga bukan perkara gampang. Aku belajar banyak selama setahun ini. Apalagi jika harus memenuhi undangan event yang lokasinya belum pernah aku datangi. Butuh energi ekstra dan sempat membuatku mengurungkan niat untuk mengambil tawaran pekerjaan yang tempatnya lumayan jauh. Tapi suami selalu mengingatkanku untuk belajar profesional. Suami juga mengingatkan tidak baik menolak rezeki yang menghampiri. Jadi aku berusaha menerima setiap tawaran pekerjaan yang datang padaku selama suami mengizinkan dan anak-anak sehat. Meskipun beberapa kali ada kejadian dramatis saat menghadiri sebuah event. Tapi aku senang karena jalan ini yang aku pilih. Aku bisa menyalurkan hobi menulis, berpenghasilan, dan bisa setiap saat bersama anak-anak. Mungkin hasil yang aku dapat masih belum seberapa karena aku masih baru tapi selama setahun ini tak pernah ada bulan yang sepi dari tawaran pekerjaan. Aku harus terus belajar mengembangkan kemampuan diri agar pihak yang akan bekerjasama denganku puas dengan pekerjaanku. 

11 comments:

  1. Hayuk mbak Tata, makin produktif di tahun 2018��

    ReplyDelete
  2. Wuiiih, bulan Januari pada curhat pekerjaan semua, yaa haha... Kuucapkan Selamat juga untuk diriku sendiri yang sudah 7 tahun jadi 'pengangguran'. Badannya nganggur, yang sibuk jari sama otaknya! :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sungkem dulu sama senior hahahaha...

      Delete
  3. Memang banyak yang mencibir pekerjaan freelance, karena hampir mirip dg pengangguran yang lontang lantung du rumah, tapi bagi yang menjalani pastinya sangat enjoy dan menikmati

    ReplyDelete
  4. 2 taun jadi freelancer suka baper klo tetangga di rumah ngajakkin nongkrong sesama buibu di jam 10 pagi jam 1 siang dan jam 4 sore, kan gimana yaaa ... dilema, gak nongkrong tar jadi bahan omongan ... nongkrong yg ada kerjaan freelancer dan domestik keteter

    alhamdulillah setelah 5 taun jadi freelancer, tetangga udah pada pengertian, klo aku lagi banyak kerjaan pasti gak nongkrong2 gitu hehehe

    semangat mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah 5 tahun.semoga aku bisa istiqomah seperti mbak ya

      Delete
  5. Aku pengangguran. Sampai bapakku heran, ngapain sih dari tadi di depan laptop? Pengen cerita tapi khawatir nggak nyambung.

    ReplyDelete