Tuesday, August 15, 2017

Jangan Ngaku Merdeka Jika 3 Hal Ini Terabaikan!


Bulan Agustus ini dirayakan sebagai bulan Kemerdekaan Bangsa Indonesia. Semua orang menyambut gembira bulan kemerdekaan ini. Karena di bulan Agustus ini bangsa indonesia terbebas dari jajahan bangsa lain. Bangsa Indonesia telah Merdeka. Jika Negara sudah merdeka, bagaimana dengan kita sebagai warga negara? Sudah merdeka juga? yakin sudah merdeka? sebelum ngaku merdeka, cek hal-hal dibawah ini dulu deh.Yuk sama-sama evaluasi diri. 

Hati Yang Merdeka

Katanya diri kita dikendalikan oleh sepotong daging bernama hati. Hati itulah yang mempengaruhi perilaku kita. Termasuk cara kita memperlakukan orang lain. Kita belum merdeka jika masih menilai orang lain dari kaca mata kita semata. Kadang kala orang lain terlihat buruk bukan karena mereka benar-benar buruk, tapi "kaca mata " yang kita gunakanlah yang terlalu keruh. Ibarat kaca jendela yang harus rajin dibersihkan. Begitu juga dengan hati kita. Jika masih meremehkan orang lain, tidak bisa mengakui kelebihan orang lain, masih iri dengki dengan orang lain yang lebih berkembag dari kita, maka hati kita belum merdeka. Tak hanya itu, bila stok sabar dan syukur kita masih menipis, belum bisa mengontrol sepenuhnya keinginan-keinginan kita,itu juga bisa jadi indikasi hati yang belum merdeka.

Kemerdekaan Finansial

Rasanya belum dikatakan merdeka seutuhnya bila kita masih punya banyak tanggungan ya. Baik tanggungan dalam jumlah kecil ataupun dalam jumlah yang fantastis.Tanggungan disini dalam artian hutang atau cicilan alias angsuran. Lha emang ada ya orang yang sama sekali tak mempunyai hutang di zaman sekarang ini? Ada dong, coba lakukan pengamatan. Ada orang-orang yang masih memegang prinsip hidup seadanya asal tak punya tanggungan alias hutang. Bahkan ada yang investasinya dimana-mana tanpa punya hutang sama sekali.

Hidup tanpa hutang atau kemerdekaan finansial itu memang butuh komitmen tingkat tinggi. Jika sekarang masih punya tanggungan dan berniat untuk merdeka secara finansial, maka dibutuhkan revolusi mental. Yupz, mental hutangnya harus dirombak. Termasuk hutang dalam bentuk kartu kredit lho ya, namanya tetap hutang. Dibutuhkan niat yang kuat untuk memulai menabung atau investasi sesuai dengan kemampuan. Artinya bila mampunya investasi dalam bentuk logam mulia ya jangan memaksa investasi dalam bentuk saham misalnya. Tetap disesuaikan dengan keuangan keluarga masing-masing.  Begitu juga dengan perihal menabung. Bila mampunya menabung dalam jumlah sedikit, maka yang perlu dilakukan adalah konsistensinya. Bisa memakai prinsip sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit. Bukankah kita sering mmendengar orang-orang dengan ekonomi pas-pasan bisa berangkat haji setelah menabung sekian lama. Prinsip yang mereka pakai adalah komitmen dan konsisten. Komitmen dan konsisten untuk menyisihkan uang. Mereka saja bisa merdeka secara finanasial dengan hidup secukupnya dan tanpa hutang. Seharusnya kita juga bisa ya, asal berani melakukan revolusi mental, mental berhutang.

Kemerdekaan Waktu


Jangan mengaku sudah merdeka jika rutinitas harian masih dikejar waktu.  Waktu masih mengendalikan kita. Harusnya kita yang mengendalikan waktu. Namun kenyataannya masih banyak orng yang hidupnya diburu waktu. Pagi hingga malam hari terasa tak cukup untuk bekerja. Hingga tak jarang mengabaikan keluarga. Atau kita terlalu terlena dengan waktu, menunda banyak pekerjaan dengan alasan masih ada waktu besok ataupun lusa. Jika kita belum bisa mengatur waktu berarti kita belum merdeka. karena kita masih diperbudak oleh sang waktu. Harus ada revolusi mental. Mental yang selalu meremehkan waktu harus diubah. Disiplin diri itu meliputi disiplin waktu. Jangan biarkan hidup kita dikuasai oleh waktu. Kitalah yang harus pandai memanfaatkan sang waktu.

Gimana? sudah benar-benar merdeka apa belum. Jika belum sepenuhnya merdeka, ayo mulai dari sekarang berusaha untuk memerdekakan diri. Butuh revolusi mental banget ya. Mental yang baperan harus disapu bersih, mental kreditan alias sayang banget kalau mau beli cash juga harus diubah. Bila mampu beli cash kenapa harus beli dengan sistem cicilan. Poin ini yang biasanya susah untuk direvolusi, apalagi untuk masyarakat perkotaan. Tapi bukan berarti tidak bisa. Selama ada niat yang kuat untuk berubah maka jalannya akan terasa mudah. Dan poin terakhir tentang managemen waktu, sebenarnya ini ada kaitannya dengan pola hidup yang sudah tertanam dari kecil. Meskipun berubah menjadi manusia yang disiplin waktu itu tidak mudah, tapi bila mau mencoba perlahan pasti bisa. Disiplin waktu dimulai dari hal-hal kecil terlebih dahulu dan mulai saat ini juga.

tulisan revolusi mental ini terispirasi oleh obrolan bersama mama ketje Annelesmana yang bulan lalu menghadiri acara revolusi mental di surabaya. Memang ya inspirasi itu bisa datang dari mana saja.





11 comments:

  1. Aku masih sering berasa dikejar2 waktu. Mesti belajar managemen waktu aku mba..

    ReplyDelete
  2. Merdeka itu kalau revolusi mental kita udah jauh lebih baik daripada kemaren ya. Apalagi kalau merdeka secara financial waaahh harus itu. Merdeka!

    ReplyDelete
  3. merdeka secara finansial. Saya sedang berusaha ke arah sana :)

    ReplyDelete
  4. Bhaahhahaha. Yawlooohhh, 3 hal penting yg sering terabaikan. Dipikir baik-baik aja, padahal kritis.

    ReplyDelete
  5. benernih.. kit harus dapet 3 hal itu kalau mau bilang merdeka

    ReplyDelete
  6. Merdeka secara finansial dan waktu, Semoga aku bisa mencapai ini :D

    ReplyDelete
  7. hati yang merdeka..jiaah, berat nih ceritanya..
    Harus berusaha merevolusi mental ini biar bisa merdeka hati, finansial dan waktu..Semangat!!:)

    ReplyDelete
  8. Yg ttg waktu nih aku msh kyk dijajah :( . Perasaan kok kyk dikejar2 banget kalo udah dikantor. Kayaknya memang management waktuku munhkin yg harus diubah..

    ReplyDelete