Thursday, April 6, 2017

Anak Tantrum, Haruskah Emak Ikutan?



Ketika lagi jalan-jalan baik di mall atau di area terbuka aku sering menjumpai anak-anak usia 3-5 tahun yang nangis jejeritan kadang sambil guling-guling. Bahkan ada yang sampai memukul orangtuanya. Aksi bocah-bocah itu secara otomatis mengundang perhatian orang-orang di sekitarnya. Ayah ibu si anak pun sering merasa risih dengan tatapan-tatapan penuh makna dari orang yang menyaksikan. Dengan alasan malu mereka berusaha menghentikan tangisan si anak dengan berbagai cara. Mulai dari membujuk secara baik-baik, segera menuruti permintaan si anak, hingga mencubitnya. Sebenarnya anak usia 1,5 - 5 tahun memang bisa mengalami fase seperti itu. Para pakar dalam parenting menyebut  temper tantrum, yaitu  kondisi ledakan emosi yang disebabkan ketidakmampuan mengungkapkan keinginan dan menuntut orangtua memahaminya. Aku sendiri yang sudah mempunyai dua anak pastilah pernah mendapati anak tantrum. Tantrum si sulung Agha gak sampai guling-guling atau memukul ayah bundanya. Agha tipe anak yang bisa dibilang balita yang masih bisa mengontrol keinginannya. Ketika jalan ke mall misalnya, dia melihat mainan yang disukai dan ingin membelinya, tapi harga mainan di tempat  itu terlalu mahal menurut ayah bunda, maka pilihan terbaik adalah bernegosiasi dengan Agha. Meminta ia menunda membeli mainan tersebut dan sebagai gantinya, ayah akan membelikan mainan yang sama keesokan harinya di tempat berbeda. Berhubung di dekat tempat kerja ayah ada pusat perkulakan mainan, biasanya kita akan mengatakan ke Agha “Mas beli mainan ini besok ya di dekat tempat kerja Ayah.” Kalimat mantra itu cukup efektif untuk dia. Tentunya janji kepada anak harus ditepati agar lain kali tetap bisa bernegosiasi dengannya. Meskipun tidak sampai menangis histeris, jangan kira tak ada adegan yang mengiringi proses negosiasi dengan si sulung lho. Ketika keinginannya mendapatkan sesuatu sudah mencapai ubun-ubun, ia akan melancarkan aksi “ngambek” dengan ekspresi bibir manyun dan tangan dilipat di dada. Kalau sudah seperti itu, solusi terbaik adalah ayah bunda ngacir meninggalkan lokasi penjual mainan dan berusaha mengalihkan perhatian Agha dengan menawari makanan kesukaannya atau mengajak ke area permainan yang ia sukai.

Wah semudah itukah mengatasi tantrum agha? Bunda gak perlu pusing, hebring, intonasi dan tensi yang meninggi dong? Tunggu dulu, bunda Agha bukan bidadari kok. Ada kalanya aku menjelma menjadi “Tiger Mom” juga.  Saat di rumah adalah saat yang paling susah untuk mengkondisikan tantrum Agha. Entah karena posisinya dirumah jadi dia bisa leluasa untuk menangis sambil guling dikasur atau karena gak ada banyak orang yang memperhatikan. Sering kali ia menginginkan sesuatu disaat aku juga masih rempong dengan pekerjaan rumah. Kadang meskipun sudah diambilkan apa yang diinginkan, ia masih tantrum karena bunda terlambat sedikit memberi apa yang dia mau. Alhasil ketika Agha tantrum emaknya pun ikutan tantrum. Malahan kalau diingat, tantrum emaknya lebih parah, ah bikin geli kalau ingat momen  itu.

Sebenarnya tantrum pada anak bisa diminimalisir dan seorang ibu bisa kok tidak ikutan tantrum heboh saat si anak tantrum. Ada 2 faktor yang mempengaruhi, yaiitu :

Pola Asuh Orangtua yang Memanjakan Anak Berlebihan
Semua orangtua ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya dan ingin membahagiakan si anak. Namun tak jarang cara yang mereka tempuh kurang mendidik, yaitu memanjakan anak berlebihan dengan memberikan apapun yang minta anak. cara seperti ini menurutku  ibarat senjata makan tuan. Karena saat apa yang diminta anak tidak bisa dipenuhi oleh orangtua, si anak akan cenderung tantrum sebagai bentuk protes ke orangtuanya.

Kondisi Psikis Ibu
Sebagai seorang ibu terutama yang memiliki anak usia  balita sangat dibutuhkan tingkat “kewarasan” level tinggi. Kondisi ibu yang lelah fisik dan sedang stress mempengaruhi suasana hati si ibu. Sehingga  berpengaruh juga terhadap caranya merespon tingkah pola anak. Ketika suasana hati ibu sedang kurang baik dan si bocah tantrum, maka seorang ibu cenderung emosional dalam merespon tantrum anak. Anak tantrum ibu pun ikut tantrum. Namun, kondisi akan berbeda jika suasana hati ibu sangat baik maka akan cenderung lebih tenang menghadapi anak yang sedang tantrum.

So, sebagai emak-emak yang selalu di hadapkan dengan rutinitas pekerjaan rumah yang tiada habisnya, ada tips ni supaya saat anak tantrum, emak gak ikutan tantrum juga, yaitu:

Luangkan Waktu untuk Me Time 
Meluangkan waktu untuk me time sangatlah penting. Me Time ala daku sih sekedar menikmati secangkir coklat dan membaca buku, olahraga ringan dengan gerakan-gerakan ala dancer yang menguji keluwesan badan,  bereksperimen dengan resep-resep yang baru atau menonton drama korea (teteeep gak ketinggalan drakornya ya). Kegiatan tersebut dijamin bikin refresh badan plus mata hahahaha.  Soale abis lihat yang bening-bening xixixixi.  

Lakukan Teknik One Minute Relaxation
Teknis ini aku dapat saat membaca bukunya seorang psikolog  Lara Fridani yang berjudul "Ibu, dari mana aku berasal?". jadi saat emosi sudah mulai tidak terkontrol, cobalah untuk duduk di kursi dengan posisi kaki menyentuh lantai. Kemudian mengambil nafas panjang dan dalam,serta menahannya sekuat kita. Selanjutnya lepaskan udara secara teratur dan rileks. Ulangi beberapa kali. Coba rileks kan juga bagian tubuh yang lain seperti jari-jari, bahu, dan rahang. Rasakan hasilnya, pasti akan terasa lebih tenang dan bisa berfikir jernih. Emosi menjadi reda. Anak tantrum setidaknya si ibu tidak akan ikutan tantrum. Ibu bisa segera menenangkan anak dengan memeluk atau menggendongnya.  
Berbekal pemahaman tentang faktor pemicu anak tantrum dan menerapkan tips di atas, aku menjadi lebih siap dengan anak keduaku, Inces Gia. Beda anak beda pula karakternya. Begitupun antara si sulung Agha dan adeknya Gia. Si adek lebih ekspresif. Meski masih berusia 1 tahun, ayah bunda sudah melihat gelagat tantrum ekstrim dari bocah mungil itu. kalau Mas Agha jurus andalan meminta sesuatu dengan aksi ngambek, maka adek Gia akan berteriak histeris bila keinginan sederhananya tidak terpenuhi. bunda sudah menyiapkan diri sejak dini dengan memperbanyak Me Time dan sesering mungkin melakukan One Minute Relaxation agar tidak ikutan tantrum saat si Inces tantrum. Sesekali jalan-jalan bersama menghirup udara segar di alam terbuka, agar  bisa mengurangi stres. Karena pada intinya seorang ibu harus happy agar anak-anak juga happy. 😊

16 comments:

  1. Anak2ku gak pernah tantrum waktu kecil tp ya tetep ada bandelnya sih. Biasanya kalau ada anak tantrum di tempat umum ibunya jadi galak, tantrumnya menjadi jadi. Semoga tipsnya dibaca byk ibu, pasti bermanfaat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbk, ego ibu lbh tinggi, si ibu merasa malu dengan orang-orang yang merhatiin anaknya yang lagi tantrum

      Delete
  2. Tantrum di tempat umum memang menguras energi mba. Ibu hrs bener2 telaten dan sabar spy gak ikutan emosi.

    ReplyDelete
  3. Iya tantrum terkadang bikin para ibu jadi ga sabar ya, apalagi kalau di tempat umum.

    ReplyDelete
  4. Kalau anak tantrum di muka umum, itu tantangan deh. Meredakan emosi diri sendiri dan pasang wajah lempeng

    ReplyDelete
  5. Bacaan yang menyenangkan di pagi menjelang siang begini. Semoga aku busa jadi ibu yang happy nantinya.

    ReplyDelete
  6. Saya bisa membayangkan betapa ruwetnya menghadapi anak tantrum, apalagi kalau kita juga lelah, rasanya pengen nangis juga wkwkwk....

    ReplyDelete
    Replies
    1. kuncinya ada pada diri sang ibu. ibu harus bisa mengendalikan dirinya dulu

      Delete
  7. kapan ya anakku terakhir kali tantrum di depan umum? pernah kok, biasanya kalo gitu langsung q ajak pulang. tapi semakin lama dia udah ga begitu lagi. mungkin karena usianya sudah 5,5 tahun..

    ReplyDelete
    Replies
    1. mengenang masa-masa anak tantrum itu jadi bikin senyum-senyum sendiri ya

      Delete
  8. Kalau anak tantrum skrng aku lbh milih diemin mbak, nanti kalau dah diem sendiri baru ditanya, "Ngapain td marah?" atau "Ngapain td nangis?" :D

    ReplyDelete