Friday, November 18, 2016

CINTA LELAKI DI SEBERANG PULAU

Bapak, begitu aku memanggilnya. Lelaki yang menghabiskan separo lebih hidupnya di seberang pulau demi mewujudkan masa depan yang lebih baik buat anak-anaknya. Bahkan hingga sekarang, di usia senjanya beliau masih berat meninggalkan pulau yang menjadi saksi perjuangan hidupnya. Meskipun hanya bisa bertemu bapak setahun sekali tapi sosok bapak tetaplah istimewa. Ya sejak kecil aku tinggal terpisah dari kedua orangtuaku. Dengan alasan kualitas pendidikan di Pulau Jawa lebih bagus, Bapak menitipkanku kepada nenek sejak usia 6 tahun. Usia yang menurutku masih terlalu kecil untuk seorang anak menjalani kehidupan yang jauh dari orangtuanya. Tapi aku yakin hal tersebut bukan keputusan yang bisa diambil Bapak  dalam hitungan hari. Bapak sudah mempertimbangkannya dengan matang.

Saat aku masih duduk di bangku sekolah dasar, Bapak memanjakanku dengan banyak hal. Selalu memastikan kebutuhan sekolahku selama setahun terpenuhi. Bahkan tak ada permintaanku yang ditolaknya. Mungkin Bapak ingin menebus rasa bersalahnya yang hanya bisa menemaniku seminggu dalam setahun. Ya, bapak hanya pulang di bulan agustus dan hanya ada dirumah nenek selama seminggu. Bapak akan kembali ke sebrang pulau bila telah selesai mengurus segala keperluanku. Itu artinya saat hari raya tiba, Bapak tidak ada bersamaku. Cukup menyedihkan bagi gadis kecil sepertiku yang melewati hari raya tanpa bapak ibu.

Ketika remaja, sosok Bapak sedikit berbeda di mataku. Bapak  menjadi orang yang aku takuti. Nada bicara Bapak selalu terdengar lebih tinggi saat menasehatiku. Hal tersebut membuatku memilih bicara seperlunya dengan Bapak. Bahkan Bapak terkesan tak begitu peduli dengan sekolahku, karena tak pernah sekalipun bapak bertanya tentang sekolahku. Meskipun ternyata pemahamanku keliru. Bapak selalu menanyakan perkembangan sekolahku kepada Ibu. Di usiaku saat itu hanya satu yang aku tahu, Bapak semakin memanjakanku. Tak ada keinginanku yang tak dikabulkan beliau. Aku selalu mendapatkan apapun keinginanku. Kelak hal tersebut menjadi bumerang bagi diriku sendiri ketika sudah menikah dan menjadi pertimbangan tersendiri dalam mendidik anak. Memberi apapun keinginan anak menurutku bukan hal yang bijak.

Setelah menikah, aku baru menyadari banyak hal tentang sosok Bapak. Ternyata selama ini bapak mengajarkan nilai-nilai kehidupan tidak hanya dengan menasehati tapi memberi contoh secara langsung kepada anak-anaknya. Bagi Bapak, pondasi dari semua pendidikan adalah pendidikan agama. Jadi bukan hal yang aneh  saat Bapak sampai mendobrak pintu kamarku dan adik-adik sekedar memastikan kami bangun dan melaksanakan sholat subuh. Bapak juga mengajarkan bahwa hidup itu harus banyak bersyukur dan banyak memberi. Dan ketika memberi  jangan berharap imbalan dari orang yang sama, karena hanya sakit hati yang akan di dapat. Allah akan membalas kebaikan kita  dari tangan lain. Demikian yang selalu ditekankan bapak. Bapak juga mencontohkan bagaimana cara memuliakan tamu. Siapapun tamu yang datang ke rumah kami, maka bapak akan totalitas menjamu tamu tersebut.

Sisi lain Bapak yang selalu membuatku rindu kehadirannya adalah sosoknya yang humoris. Bapak bisa menghidupkan suasana dengan celetukan-celetukannya saat berkumpul di ruang keluarga.  Bapak juga pribadi yang selalu ingin belajar. Semua dipelajari secara otodidak. Beliau rela begadang hanya sekedar ingin membuat sebuah radio rakitan atau ingin cepat menguasai gadget pemberian anaknya. Bapak adalah teman ngobrol yang asyik. Mulai dari bahas berita para politikus sampai gosip artis beliau tahu. Dan pengetahuan musiknya luas. Kebanyakan orang seusia bapak hanya paham atau suka musik dangdut atau keroncong, tapi bapak musik yang lagi digandrungi anak muda pun hafal. Kadang beliau memutar sebuah lagu pop dan memintaku menebak judul lagu sekaligus nama penyanyinya. Akupun sering salah menebaknya. Padahal lagu itu lagu yang lagi ngehits kata Bapak. Bapak selalu lebih unggul dalam hal musik. Bapak, engkau selalu punya tempat tersendiri di hatiku. Lelaki yang ingin kutemani disepanjang usiaku.  

1 comment:

  1. waduh merinding..., semoga dapat membalas jasa orang tua mbak,,,

    ReplyDelete