FILOSOFI KEPITING

Hari raya idul fitri kemarin ada seorang kerabat mengutarakan keinginannya berhenti bekerja dan memulai usaha roti bakar. Namun istri dan saudara-saudaranya tidak setuju dengan langkah yang akan diambil oleh kerabat tersebut. Karena selama ini kerabat saya bisa dibilang sudah berada di zona nyaman. Menjadi kepala toko dengan gaji jauh diatas rata-rata Upah Minimum regional.

Pernah tidak berada dalam situasi ingin melakukan terobosan-terobosan baru,ingin memulai usaha, ingin menemani buah hati dirumah sambil berwirausaha sementara orang-orang terdekat kita malah menyarankan sebaliknya. Meminta kita tetap bekerja karena gaji yang pasti atau dengan alasan sayang dengan ijazah kita, sekolah sampai ke perguruan tinggi tapi tidak bekerja.
Hal yang kita alami seperti filosofi kepiting yang menggambarkan bagaimana keinginan seseorang untuk keluar dari sebuah komunitas atau lingkungan yang tidak mendukung keinginan untuk menjadi wirausahawan. Sebuah lingkungan yang menentang keberanian kita mencoba hal-hal baru. Coba kita amati dan melakukan sebuah eksperimen dengan menempatkan puluhan kepiting dalam sebuah keranjang. Kita bisa melihat betapa sulitnya seekor kepiting untuk keluar dari keranjang. Kesulitan tersebut timbul bukan karena ketidakmampuan untuk melakukannya, namun karena usahanya terus dihalang-halangi oleh komunitasnya. Pada saat seekor kepiting mencoba naik dan ingin keluar dari keranjang, kepiting-kepiting yang lain akan menariknya sehingga kepiting itu terjatuh kembali. Dia terus mencoba namun lagi-lagi kepiting yang lain menariknya. Begitu seterusnya hingga kepiting tersebut tetap berada dalam keranjang bersama yang lain, tidak kemana-mana. Anehnya, jika ada satu kepiting sukses, bisa keluar dari keranjangnya, maka kepiting-kepiting lain akan beramai-ramai mengikutinya.
Filosofi ini menjelaskan bahwa dibutuhkan keinginan kuat dan kerja keras bagi kita untuk keluar dari komunitas atau lingkungan yang tidak mendukung kita untuk terjun menjadi wirausahawan. Biasanya hambatan yang paling berat untuk memulai usaha adalah keluarga kita sendiri. Mereka tidak mendukung apa yang mau kita lakukan. Terlebih lagi jika kita berasal dari keluarga yang tidak memiliki latar belakang wirausaha. Namun sebagaimana yang dilakukan oleh kepiting, kita harus yakin dan terus mencoba untuk bisa memberikan pengertian dan keyakinan kepada keluarga kita bahwa menciptakan lapangan pekerjaan sendiri lebih baik daripada mengejar-ngejar lowongan kerja. Dan apabila kita sukses maka banyak yang akan beramai-ramai mengikuti jejak kesuksesan kita sebagaimana ditunjukkan filosofi kepiting di atas.
Terinspirasi dari tulisan bapak ariyanto dalam bukunya 40 solusi bisnis dahsyat 

Comments