SUDAHKAH KITA MENG-ASURANSI-KAN DIRI KITA KEPADA-NYA?

Akhir-akhir ini perusahaan asuransi menjamur di negeri kita. Tidak hanya asuransi konvensional maupun asuransi syari’ah.tentang asuransi, pasal 246 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD) menjelaskan bahwa asuransi adalah “suatu perjanjian, dengan mana seorang penanggung mengikatkan diri kepada seorang tertanggung dengan suatu premi untuk memberikan penggantian kepadanya karena suatu kerugian, kerusakan, atau kehilangan keuntungan yang diharapkan, yang mungkin akan dideritanya karena suatu peristiwa yang tak tentu.” Asuransi yang ditawarkan bermacam-macam, mulai dari asuransi pendidikan, kesehatan, jiwa, kerugian, dan masih banyak lagi. Dengan membayar premi tiap bulan yang telah disepakati dalam polis (perjanjian asuransi), kita akan mendapat sejumlah uang pertanggungan apabila terjadi sesuatu dengan kita. Sebenarnya kita bisa mengasuransikan diri kita tanpa mengeluarkan uang premi. Sebagai seorang muslim, Allah adalah tempat kita meminta pertolongan dari hal-hal yang tidak kita inginkan. Janji Allah pun tentang pertolongannya banyak kita jumpai dalam ayat-ayat-Nya. salah satunya adalah berbunyi “jadikan sholat dan sabar sebagai penolongmu”, Semua kesulitan kita akan mudah di acc apabila kita dekat dengan-nya. Ini sama halnya kita mengasuransikan diri kepada-Nya dengan premi berupa kesungguhan menjalankan ibadah yang kita lakukan sehari-hari, baik ibadah secara tekstual seperti shalat, puasa, dzikir, atau ibadah secara kontekstual, artinya semua aktivitas kita, yang kita lakukan dengan ikhlas. Dan janji-janji Allah tersebut sebagai polis (perjanjian asuransi). So, sudahkah kita mengasuransikan diri kita kepada-Nya? Jika membutuhkan pertangguhan dari Allah berupa harta, kesehatan, atau dalam bentuk lain sewaktu-waktu, sudahkan kita memperbaiki kualitas ibadah kita?sebagai ganti premi yang harus kita bayar. Mudah bukan?tanpa harus menyetor sejumlah uang ke perusahaan-perusahaan asuransi, kita sudah mendapatkan asuransi otomatis dari “dzat yang ngecat cabe”, cukup dengan bersungguh-sungguh bertawakkal kepada-Nya.

You know…coretan ini terlintas dibenakku saat dosenku menjelaskan tentang asuransi waktu kuliah Hukum Asuransi di Indonesia.hahaha…

Comments